Romantis

Kisah Cinta di Bawah Pohon Mangga Tua

Dita menuruni tangga rumah kontrakan tua di Jalan Kenanga, menutup payungnya yang sudah basah oleh hujan gerimis. Angin membawa aroma tanah basah, dan suara tetesan air menambah keheningan pagi. Di sudut halaman, sebuah pohon mangga tua berdiri megah, daunnya meneteskan embun seperti permata. Dita selalu melewati pohon itu setiap pagi untuk menuju kampus, namun hari itu, karena hujan, ia memutuskan menunggu di bawah naungan pohon.

Saat ia duduk di bangku kayu yang terletak di bawah pohon, terdengar langkah kaki yang perlahan menghampiri. Seorang pria dengan jaket hujan biru dan ransel hitam berdiri di depan, menatap pohon itu sejenak sebelum mengucapkan, "Pohon ini selalu jadi tempatku menunggu hujan," katanya dengan senyum yang menghangatkan.

"Aku Dita," jawabnya sambil mengulurkan tangan.

"Arif," jawab pria itu, menatap mata Dita dengan tatapan yang tulus. Kedua tangan mereka bersentuhan singkat, seolah menandai awal sebuah ikatan yang belum terdefinisi.

Arif bekerja sebagai desainer grafis freelance, sering menghabiskan waktunya di kafe-kafe kecil di sekitar kampus. Namun, pada hari itu, ia terpaksa menunda pekerjaan karena proyek pentingnya terhenti karena listrik padam. Ia memutuskan menunggu di bawah pohon mangga, tempat yang selalu ia anggap "ruang istirahat alam".

Dita, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, sedang menyiapkan skripsi tentang puisi modern. Ia menemukan inspirasi di antara rintik hujan dan dedaunan yang bergoyang.

Mereka mulai berbincang, saling bertukar cerita tentang mimpi, kegagalan, dan harapan. Arif bercerita tentang keinginannya membuka studio desain sendiri, sementara Dita mengungkapkan rasa takutnya gagal menuntaskan skripsi. Kedua hati mereka berdenyut seirama, merasakan kehangatan yang melampaui derasnya hujan.

Hujan semakin lebat, namun mereka tetap duduk bersila di bawah pohon. Arif mengeluarkan sebuah buku sketsa usang yang berisi coretan-coretan desainnya. "Aku suka menggambar orang yang sedang menunggu," katanya, menatap Dita. "Mungkin kamu yang menjadi inspirasiku."

Dita tersipu, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berisi puisi-puisi yang belum pernah ia publikasikan. "Aku menulis tentang orang-orang yang menunggu cahaya," ucapnya, menatap mata Arif.

Iklan

Mereka berjanji untuk saling mendukung: Arif akan membantu desain sampul skripsi Dita, sementara Dita akan menulis puisi untuk poster kampanye Arif. Janji itu terikat pada akar kuat pohon mangga, yang seakan mendengar bisik mereka.

Minggu demi minggu, mereka bertemu di bawah pohon itu. Hujan berganti menjadi terik, namun pohon tetap menjadi saksi bisu. Arif mulai mengerjakan desain sampul skripsi Dita, menciptakan ilustrasi mangga yang setengah terbuka, melambangkan harapan yang akan segera tumbuh.

Dita menulis puisi berjudul "Ranting yang Menunggu" yang dipublikasikan di majalah kampus. Puisi itu mendapat respon positif, memberi kepercayaan diri pada Arif untuk mempresentasikan portofolio di sebuah agensi kreatif.

Hubungan mereka berkembang dari sekadar teman menjadi pasangan yang saling menguatkan. Mereka belajar menerima kekurangan masing-masing, seperti hujan yang tak selalu datang pada waktu yang tepat.

Pada suatu sore, ketika hujan turun deras sekali lagi, Dita datang ke pohon dengan seikat bunga melati. "Aku ingin mengucapkan terima kasih," katanya, sambil menaruh bunga di pangkal batang pohon.

Arif menatapnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang berisi cincin perak sederhana. "Aku tidak pernah yakin bagaimana cara mengungkapkan perasaanku, kecuali lewat sesuatu yang sederhana, seperti pohon ini yang selalu menunggu," ujarnya.

Dita meneteskan air mata bahagia, menyadari bahwa pohon mangga itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan tempat mereka menumbuhkan cinta.

Hari itu, hujan berhenti dan pelangi muncul di langit. Dita dan Arif berpegangan tangan, berjalan menuruni jalan setapak di sekitar pohon, meninggalkan jejak langkah yang kini menjadi bagian dari cerita pohon mangga tua. Setiap kali hujan turun, mereka kembali ke sana, mengingat kembali bagaimana sebuah pertemuan tak terduga menjadi benih cinta yang tumbuh di bawah naungan daun hijau yang selalu menunggu.

Iklan