Ruang Bawah Tanah di Balik Latar Bawah Kota
Ruang Bawah Tanah di Balik Latar Bawah Kota
Bima baru saja pindah ke sebuah apartemen dua kamar di gang sempit Jalan Mangga, sebuah lorong yang selalu dipenuhi aroma masakan pedas dari warung sebelah. Apartemen itu memang sederhana—dinding bata merah, lantai kayu usang, dan jendela yang menghadap ke selokan air hujan. Namun ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan: harga sewa yang terjangkau dan lokasi yang dekat dengan kantor desain grafis tempatnya bekerja.
Malam pertama di sana, Bima menata barang‑barangnya sambil mendengarkan deru angin lewat celah‑celah kecil pada kusen. Ketika ia menaruh kotak berisi buku‑buku kuliah di sudut ruang tamu, matanya tertuju pada sebuah papan kayu yang terpasang agak miring di sudut dapur. Papan itu menutupi sesuatu yang tampak lebih dalam daripada sekadar ruang penyimpanan.
"Apa itu?" gumamnya pelan, mengusap permukaan kayu yang terasa lembab. Dengan hati‑hati ia menggeser papan itu, dan sebuah tangga kayu berderak menampakkan lubang hitam yang mengarah ke kegelapan. Udara yang keluar berbau tanah basah dan debu lama.
Bima menyalakan senter kecil di ponselnya, lalu menuruni tangga. Setiap langkah menimbulkan bunyi berderak yang seolah menandai keberadaan sesuatu yang lama tak tersentuh. Dinding terbuat dari batu bata yang dipenuhi jamur hijau, dan di satu sisi terdapat rak‑rak kayu berdebu yang dipenuhi botol‑botol kaca pecah, buku catatan kuno, serta potongan‑potongan logam berkarat.
Saat ia melangkah lebih jauh, sebuah suara lembut terdengar—seolah ada napas yang berhembus perlahan di antara dinding batu. Bima menahan napas, menatap ke arah suara yang seakan bergetar di udara. Suara itu tidak berbahasa, melainkan berupa desahan panjang yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus rasa takut.
"Siapa di sana?" tanya Bima, suaranya bergetar. Tidak ada jawaban, hanya gema desahan yang kembali padanya, seolah meniru pertanyaannya.
Dia melanjutkan penelusuran, menemukan sebuah peti kayu berukir dengan motif bunga melati. Peti itu terkunci rapat, namun ada celah kecil di tutupnya yang mengisyaratkan adanya sesuatu yang menunggu untuk dibuka. Bima mengeluarkan pisau lipatnya, memaksa kunci rustik itu terbuka. Begitu tutupnya terbuka, sebuah lembaran kertas kuno terjatuh, menumpuk di atas tumpukan buku harian berwarna coklat tua.
Bima mengumpulkan kertas‑kertas itu, menyadari bahwa tulisan di atasnya hampir tidak terbaca karena tinta yang pudar. Ia mengusapnya dengan hati‑hati, dan perlahan‑lahan muncul kalimat yang menakutkan: "Jangan pernah menyalakan api pada malam keempat, atau suara yang terkurung akan kembali bersuara."
Bima menatap sekeliling, mencoba mengaitkan kalimat itu dengan apa yang baru saja ia dengar. Suara desahan tadi seakan menjadi lebih jelas, seolah menunggu sesuatu. Ia menyalakan senter lagi, memeriksa setiap sudut ruang bawah tanah. Di sudut paling gelap, terdapat sebuah lubang kecil yang tampak seperti bekas pintu masuk ke ruangan yang lebih dalam.
Tanpa sadar, rasa penasaran Bima mengalahkan rasa takutnya. Ia mendekati lubang itu, lalu menurunkan senter ke dalamnya. Cahaya menembus kegelapan, memperlihatkan sebuah ruang bulat dengan lantai batu yang dipenuhi bekas-bekas lilin yang pernah terbakar. Di tengah ruang, terdapat sebuah batu besar yang tampak berlumuran darah kering.
Saat senter menyorot batu itu, cahaya memantul dan menimbulkan bayangan yang bergerak perlahan. Bayangan itu berbentuk manusia, namun siluetnya tidak lengkap; bagian kepala tampak memudar, seakan menghilang dalam asap tipis. Bima merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya, dan suara desahan tadi berubah menjadi bisikan yang hampir terdengar jelas: "Kembalilah…"
Tanpa sadar, Bima merasakan tangannya bergetar. Ia mengangkat senter, menyorot ke arah batu besar itu. Tiba‑tiba, batu itu mengeluarkan cahaya merah samar, mengalir seperti darah yang menetes perlahan ke lantai. Bima terdiam, mata menatap cahaya yang semakin intens.
"Kau memanggilku," suara itu kini jelas, berbisik dari dalam batu. "Aku adalah penjaga yang terperangkap di sini, menunggu seseorang yang berani membuka pintu rahasia."
Bima menelan ludah, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?"
"Aku adalah roh yang dulu melayani pemilik rumah ini," jawab suara itu. "Pada malam keempat bulan purnama, kami menyalakan api untuk mengusir kegelapan. Namun, api itu terbalik, memanggil kembali rasa sakit yang terpendam. Aku terkurung di dalam batu ini, menunggu seseorang yang dapat memecah kutukan."
Bima mengingat kembali catatan kuno yang ia temukan—kata‑kata tentang "api pada malam keempat". Ia menengok jam dinding di ruang atas, memperhatikan tanggal pada kalender dinding: 28 September. Malam ini memang merupakan malam keempat setelah bulan purnama sebelumnya.
Rasa penasaran Bima kembali menguasai dirinya. Ia mencari sesuatu yang dapat menyalakan api di ruang bawah tanah. Di antara rak‑rak berdebu, ia menemukan sebuah kotak besi kecil berisi korek api tua yang berkarat. Dengan gemetar, ia menyalakan korek, mengarahkan nyala ke sebatang kayu kering yang tergeletak di sudut.
Saat api menyala, aroma kayu terbakar menguar, namun seketika cahaya api berubah menjadi biru kehijauan yang berkilau. Dari dalam batu, cahaya itu memancar, menghilangkan bayangan gelap yang mengelilinginya. Suara desahan berubah menjadi tawa pelan yang tidak lagi menakutkan, melainkan mengucapkan rasa lega.
"Terima kasih," bisik suara itu, kini lebih tenang. "Aku bebas. Namun, jangan lupakan apa yang kau temukan di sini. Ceritakan pada orang lain, agar mereka tidak terjebak lagi."
Bima mengangkat senter, menatap batu yang kini kembali menjadi batu biasa—tidak ada lagi cahaya merah atau bisikan. Ia menutup kembali pintu ruang bawah tanah, menutup papan kayu yang menutupi lubang, dan menuruni tangga dengan hati‑hati.
Keesokan harinya, Bima menuliskan pengalamannya dalam sebuah blog anonim, memperingatkan siapa saja yang menemukan ruang tersembunyi serupa. Beberapa minggu kemudian, seorang tetangga mengirim pesan: "Aku juga menemukan ruang bawah tanah di apartemen sebelah. Terima kasih sudah memperingatkan."
Bima tersenyum, menyadari bahwa meski kegelapan pernah mengintai, keberanian untuk menghadapinya dapat mengubahnya menjadi cahaya. Ia kembali ke pekerjaannya, namun setiap kali melewati gang sempit itu, ia tak lagi merasakan angin dingin yang menakutkan. Sebaliknya, ia mendengar alunan musik lembut yang datang dari dalam dinding—sebuah melodi yang menandakan bahwa roh‑roh lama kini telah beristirahat.