Romantis

Alya dan Hujan di Atap Perpustakaan Tua

Alya dan Hujan di Atap Perpustakaan Tua

Alya menurunkan tas ransel berwarna coklat tua ke dalam sudut paling belakang ruang baca, tempat yang biasanya hanya dipakai untuk menyimpan koleksi majalah lama. Ia bekerja sebagai pustakawan paruh waktu di Perpustakaan Kota Cakrawala, sebuah gedung kolonial yang telah berdiri sejak era Belanda dan kini menjadi tempat favorit mahasiswa, penulis, dan orang‑orang yang sekadar mencari ketenangan.

Hari itu, langit tampak kelabu, awan menumpuk seakan menyiapkan pertunjukan hujan deras. Dari jendela besar di lantai dua, Alya dapat melihat tetesan‑tetesan pertama menetes di atas genteng keramik merah yang sudah pudar warnanya. Ia menatap ke luar sambil menata kembali rak‑rak yang berisi buku‑buku puisi klasik. Di antara buku‑buku itu, ia menemukan sebuah catatan kecil berwarna krem yang tergeletak di antara Sang Pahlawan dan Matahari Terbit. Catatan itu berisi coretan tangan: "Jika kamu menemukan ini, tolong letakkan kembali di tempatnya. - G".

Alya tersenyum. Nama inisial "G" membuatnya penasaran, karena tidak ada pustakawan lain dengan inisial itu. Ia menaruh catatan itu kembali ke dalam buku, berharap pemiliknya akan kembali suatu saat.

Sore itu, hujan mulai turun lebih deras. Suara rintik‑rintik menembus kaca jendela, menciptakan irama yang menenangkan. Alya menyalakan lampu gantung antik yang menggantung di tengah ruangan, cahaya kuning keemasannya menembus kabut hujan yang menempel di kaca. Di luar, hujan menari di atas atap, menghasilkan percikan‑percikan kecil yang memantul ke dinding batu.

Ketika ia sedang merapikan tumpukan buku di sudut kiri, seorang pemuda dengan jaket hujan biru tua masuk. Rambutnya hitam legam, dan ia menutup payungnya di pintu masuk, meneteskan air ke lantai kayu yang berkilau. "Selamat sore, Bu. Saya Gilang, mahasiswa sastra dari Universitas Purbasari. Saya butuh tempat tenang untuk menulis skripsi," katanya sambil menaruh tas kulitnya di kursi dekat jendela.

Alya menatapnya sejenak, lalu tersenyum. "Silakan, Pak Gilang. Bagian belakang ada meja yang agak tersembunyi, biasanya tidak banyak yang menggunakannya."

Gilang mengangguk, lalu melangkah ke sudut ruangan yang paling jauh dari pintu masuk. Ia duduk di atas kursi kayu, membuka laptop, dan menatap layar dengan serius. Hujan semakin deras, menciptakan suasana yang seakan menutup dunia luar.

Alya kembali ke meja resepsionis, mengatur kembali kartu anggota yang berantakan. Saat ia menata kembali, sebuah buku tebal berwarna biru tua terjatuh dari tumpukan, terbuka pada halaman tengah. Di sana tertulis kutipan dari Laskar Pelangi: "Berjalanlah, walau kau tak tahu ke mana. Karena di setiap langkah, kau temukan sesuatu yang tak terduga."

Ia membaca kalimat itu dengan perlahan, merasakan ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Di luar, suara petir bergemuruh, seakan menegaskan kata‑kata itu.

Tidak lama kemudian, Gilang menutup laptopnya dan menghela napas panjang. "Saya rasa saya menemukan satu bab yang penting. Terima kasih, Bu."

Alya menatapnya, lalu berkata, "Kalau begitu, boleh saya bantu mencari referensi lain?"

Gilang mengangkat alis, tersenyum. "Tentu, saya sangat menghargainya."

Mereka berdua mulai berjalan di antara rak‑rak, mengais‑ngais buku‑buku lama. Alya menjelaskan tentang koleksi sastra Indonesia, sementara Gilang menambahkan pengetahuan tentang teori naratif modern. Percakapan mereka mengalir alami, seakan mereka sudah saling mengenal selama bertahun‑tahun.

Saat mereka kembali ke meja kerja, hujan masih belum berhenti. Gilang menatap jendela, menunggu tetesan‑tetesan air menetes di kaca, menciptakan pola‑pola yang menenangkan. "Kamu suka hujan?" tanya Gilang.

Alya menggelengkan kepala, "Tidak terlalu, tapi ada sesuatu yang menenangkan tentang suara hujan. Seperti… menghapus kebisingan dunia."

Gilang mengangguk, lalu menatap buku catatan yang tadi ia temukan. "Kalau kamu menemukan catatan itu lagi, boleh aku tahu siapa pemiliknya?"

Alya tertawa ringan, "Mungkin saja pemiliknya masih menunggu di sini."

Iklan

Mereka kembali ke rak, mencari lagi catatan kecil berwarna krem itu. Pada akhirnya, catatan tersebut tak lagi muncul, seolah menghilang bersama hujan.

Malam semakin larut, dan lampu gantung mulai redup. Alya menyalakan lampu meja kecil di atas meja kerja Gilang, memberi cahaya hangat yang menyorot wajahnya. "Kalau begitu, Pak Gilang, apa yang membuatmu memilih menulis tentang cinta?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

Gilang menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan, "Karena cinta adalah bagian paling rumit dan paling sederhana dalam hidup. Kita menulisnya karena kita ingin mengerti diri sendiri."

Alya mengangguk, merasakan ada benang‑benang halus yang mengikat keduanya. "Aku pernah menulis puisi tentang hujan, tapi tak pernah membacanya ke orang lain," bisiknya.

Gilang tersenyum, "Mungkin suatu hari kamu akan membacanya di sini, di atap perpustakaan ini, saat hujan kembali turun."

Beberapa minggu kemudian, hujan kembali turun di atap perpustakaan. Kali ini, Alya memutuskan untuk membawa buku puisi yang dulu ia tulis, menunggu Gilang di sudut yang sama.

Saat Gilang tiba, ia membawa secangkir kopi hitam dalam termos berwarna hijau zamrud. "Aku mendengar ada puisi baru," katanya sambil menyerahkan termos itu kepada Alya.

Alya membuka buku tebal itu, mencari halaman yang ditandai dengan pita merah. Ia membaca dengan suara lembut, "Hujan menetes di atap tua, menulis nada-nada pada kaca, dan hatiku berdetak bersama irama itu, menunggu seseorang untuk mengerti…"

Gilang menutup mata, mendengarkan setiap kata seolah meneteskan air ke dalam hatinya. Ketika Alya selesai, ia membuka matanya dan berkata, "Itu indah, Alya. Aku merasa seolah hujan itu membawa kita lebih dekat."

Mereka duduk di bangku kayu, menatap tetesan hujan yang menari di atas atap. Suara hujan berubah menjadi melodi yang menenangkan, dan dalam keheningan itu, keduanya merasakan getaran perasaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Alya menatap Gilang, lalu berkata, "Mungkin kita tidak perlu menunggu catatan misterius lagi. Kita bisa menulis cerita kita sendiri, di antara tumpukan buku dan hujan yang tak pernah berhenti."

Gilang mengangguk, menggenggam tangan Alya dengan lembut. "Aku setuju."

Hari‑hari berikutnya, mereka rutin bertemu di perpustakaan, menulis bersama, berdiskusi, dan kadang sekadar duduk diam sambil menunggu hujan. Hujan menjadi saksi bisu atas tumbuhnya rasa yang perlahan mengalir di antara mereka.

Suatu sore, ketika hujan berhenti dan matahari mulai menampakkan sinar keemasan, Alya dan Gilang berjalan keluar dari atap perpustakaan. Mereka melihat pelangi yang muncul di antara tetesan‑tetesan yang masih menempel di atap batu.

"Seperti janji yang muncul setelah hujan," kata Gilang sambil menatap pelangi.

Alya tersenyum, mengangguk, "Ya, dan setiap warna mengingatkan kita pada setiap bab dalam cerita kita."

Mereka berdua melangkah pulang, membawa kenangan tentang hujan, buku, dan satu sama lain. Di dalam hati mereka, ada sebuah lembaran kosong yang kini terisi oleh kisah yang terus berlanjut, menunggu halaman‑halaman berikutnya untuk ditulis bersama.

Cerita ini mengisahkan pertemuan tak terduga antara dua jiwa yang menemukan kehangatan di antara tumpukan buku, hujan, dan rasa‑rasa yang perlahan tumbuh menjadi sebuah cinta yang hangat dan emosional.

Iklan