Romantis

Kopi Jam Lima Sore

Selama tiga bulan, Wulan selalu datang ke kedai kopi kecil di ujung jalan itu tepat jam lima sore, duduk di meja dekat jendela, memesan kopi susu dingin, dan menghabiskan satu jam menulis di buku catatannya sebelum pulang.

Dan selama tiga bulan itu pula, ada seorang pria yang selalu datang lima menit setelahnya, duduk di meja sebelah, memesan kopi hitam, dan membaca buku tanpa pernah mendongak.

Mereka tidak pernah bicara. Hanya anggukan kecil sesekali ketika kebetulan menoleh bersamaan, lalu kembali ke dunia masing-masing.

Suatu sore di bulan keempat, hujan turun deras tanpa aba-aba. Wulan lupa membawa payung. Ketika ia bersiap berlari menerobos hujan, suara di sebelahnya menghentikannya.

"Pakai ini," kata pria itu, menyodorkan payung lipat berwarna biru tua. "Saya masih mau baca sedikit lagi."

Wulan menerimanya dengan ragu. "Nanti bagaimana kamu pulang?"

"Saya suka hujan," jawabnya, tersenyum tipis, lalu kembali ke bukunya seolah percakapan itu hal biasa yang sudah sering mereka lakukan.

Esok sorenya, Wulan datang lebih awal, membawa payung biru itu bersih dan kering, plus segelas kopi hitam yang sudah ia pesankan duluan. Pria itu tiba lima menit kemudian seperti biasa, dan kali ini, alih-alih duduk di meja sebelah, ia berhenti di meja Wulan.

"Boleh saya duduk di sini?" tanyanya.

"Kopimu sudah dingin kalau menunggu terlalu lama," jawab Wulan, mendorong gelas itu ke seberang meja.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya dalam empat bulan, dua meja yang selalu terpisah itu menjadi satu—dan obrolan yang mengalir ternyata jauh lebih mudah daripada keduanya kira, seolah mereka sudah saling mengenal jauh sebelum kalimat pertama diucapkan.