Cermin Retak di Puncak Lumbung Tua
Bagian I – Kedatangan
Malam itu, hujan turun dengan deras, menampar atap rumah sederhana di pinggir desa. Angin membawa aroma tanah basah, menyatu dengan bau kayu tua yang menguar dari lumbung tua di ujung ladang. Aku, Dira, baru kembali dari kota setelah tiga tahun mengabdi sebagai perawat di rumah sakit. Karena ibuku sakit keras, aku memutuskan pulang ke desa tempat kami tumbuh. Rumah keluargaku masih berdiri, meski catnya mulai mengelupas dan jendela‑jendela berderak setiap kali angin melintas.
Setelah menyiapkan sarapan sederhana, aku mendengar suara ketukan lembut pada pintu belakang. Itu bukan suara hujan; ada sesuatu yang menepuk‑nepuk kayu dengan irama teratur, seolah mengundang. Aku membuka pintu dan menemukan sebuah kotak kayu berukir, tanpa nama pengirim. Di dalamnya terletak sebuah cermin kecil, berbingkai kayu gelap yang tampak sudah usang. Pada permukaan cermin terdapat retakan melengkung menyerupai alur sungai.
Aku mengangkat cermin itu, merasakan kesejukan yang aneh mengalir dari permukaan kaca. Saat aku menatap ke dalam, bukan pantulan diriku yang muncul, melainkan cahaya redup yang berkelip‑kelip, seperti api kecil yang tak pernah padam. Aku menggelengkan kepala, mencoba menepis perasaan aneh itu, lalu menaruh cermin di atas meja dapur.
Bagian II – Bisikan Lumbung
Malam semakin kelam, dan hujan tak kunjung reda. Aku memutuskan menyalakan lampu minyak di ruang tamu, menghindari lampu listrik yang tampak berkelip‑kelip. Ketika cahaya lampu minyak menyinari cermin, retakan pada kaca tampak berdenyut, seolah menyesuaikan diri dengan cahaya.
Tiba‑tiba, terdengar suara langkah kaki pelan di atas tangga lumbung. Aku menoleh, tetapi tidak ada siapa‑siapa di luar jendela. Suara itu berlanjut, menapaki kayu‑kayu lama yang berderit di setiap langkah. Aku merasakan jantungku berdegup kencang, namun rasa penasaran membuatku beranjak menuju lumbung.
Lumbung itu berdiri di belakang rumah, bangunan kayu tinggi dengan atap yang hampir runtuh. Pintu kayunya terbuka sedikit, mengundang angin dingin masuk. Aku melangkah masuk, mengeluarkan senter kecil, dan menatap ke dalam. Di pojok paling atas, di atas tumpukan jerami kering, cermin kecil itu tergantung pada tali yang tampak rapuh.
Saat cahaya senter menyentuh cermin, retakan di permukaannya seolah mengalir, menampilkan sekilas bayangan seorang perempuan muda dengan pakaian tradisional, mata hitam pekat menatap lurus ke arahku. Suaranya tidak terdengar, namun ada bisikan halus yang bergema di telinga, "Tolong...".
Aku menutup mata sejenak, menahan napas. Ketika membuka kembali, bayangan itu menghilang, meninggalkan keheningan yang menekan. Aku meraih cermin, berusaha menurunkannya, namun tali itu terasa seakan menempel pada sesuatu yang tak kasat mata.
Bagian III – Kenangan yang Terkunci
Keesokan paginya, hujan telah reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan. Aku memutuskan membersihkan lumbung, berharap menghilangkan rasa tidak nyaman semalam. Saat membuka peti kayu di sudut, aku menemukan sebuah buku catatan kulit yang berdebu. Halaman pertamanya berisi tulisan tangan ibuku: "Jika kau menemukan cermin ini, jangan pernah menatapnya pada malam hari. Ada yang terperangkap di dalamnya."
Tulisan itu membuat darahku berdesir. Aku mengingat cerita-cerita lama tentang lumbung ini, yang katanya pernah menjadi tempat persembunyian seorang wanita bernama Sari, yang dituduh menyihir desa pada abad ke‑19. Konon, setelah dipenjara di lumbung, ia mengutuk tempat itu, menjadikan cermin sebagai jendela ke dunia lain.
Aku menutup buku itu, menatap cermin yang kini tergeletak di tanah. Retakannya tampak lebih dalam, seakan menelan cahaya. Aku memutuskan mengembalikannya ke dalam kotak kayu dan menyimpannya di lemari, berharap menenangkan hati.
Bagian IV – Suara dari Retakan
Malam berikutnya, aku terjaga oleh suara ketukan pelan pada lemari kayu. Aku membuka mata, lampu minyak masih berkelip redup. Ketukan itu berulang, seolah ada sesuatu yang mencoba keluar. Aku mengulurkan tangan, membuka lemari, dan menemukan cermin kembali di dalamnya, meski sebelumnya sudah kuletakkan kembali.
Saat aku mengangkatnya, retakan pada kaca berkilau, memantulkan cahaya lampu menjadi bayangan yang menari. Dari dalam cermin, muncul kembali sosok perempuan itu, kali ini dengan ekspresi yang lebih jelas—rasa sakit dan kebingungan. "Aku tidak bisa pergi," bisiknya, "Aku terjebak dalam bayangan ini, menunggu seseorang membuka pintu yang terkunci."
Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, suara hujan yang kembali menetes di atap memberikan rasa tenang yang aneh. Aku mengingat kata ibuku: "Jangan pernah menatapnya pada malam hari." Aku menurunkan cermin ke lantai, menutupnya dengan selimut tebal.
Bagian V – Penutup yang Tak Terduga
Hari berganti menjadi minggu. Setiap malam, suara ketukan kembali, namun kali ini lebih lembut, seakan meminta maaf. Aku mulai menulis catatan harian, mencatat setiap bisikan yang kudengar. Suara itu tidak lagi mengganggu, melainkan menjadi melodi yang menenangkan, seperti nyanyian lullaby lama.
Suatu pagi, ketika aku membersihkan lumbung lagi, aku menemukan sebuah lubang kecil di dinding kayu, berisi sekeping kaca berwarna hijau. Di dalamnya, terukir gambar wanita dengan mata hitam, mirip dengan sosok yang muncul di cermin. Aku menyadari bahwa cermin itu bukan sekadar kaca, melainkan portal yang menyimpan bagian dari jiwa Sari.
Aku menaruh sekeping kaca itu di altar kecil di pojok lumbung, menyalakan dupa, dan berdoa agar arwahnya menemukan kedamaian. Sejak saat itu, suara ketukan tidak lagi terdengar. Cermin tetap berada di dalam kotak, namun kini tidak lagi berkilau.
Epilog
Sekarang, ketika hujan turun, aku duduk di depan jendela, menatap ladang yang basah, mendengar gemerisik angin yang membawa kisah lama. Lumbung tua tetap berdiri, menunggu cerita baru yang akan datang. Dan di dalam kotak kayu, cermin retak tetap berdiam, menunggu seseorang yang siap mendengarkan bisikannya tanpa rasa takut.