Horor

Rani dan Lantunan Sunyi di Balik Jendela Tua

Bab 1: Penemuan

Rani baru saja pindah ke sebuah kos kecil di pinggir Jalan Manggar, sebuah gang sempit yang dipenuhi warung makan pecel dan toko kelontong. Kos itu berada di lantai dua sebuah bangunan tua berwarna abu‑abu, dindingnya berlumut dan atapnya meneteskan tetesan air pada musim hujan. Pada sore pertama, sambil menata barang‑barangnya, matanya tertuju pada sebuah jendela kecil di sudut kamar yang selalu tertutup rapat dengan papan kayu.

"Kenapa ada jendela yang nggak pernah dibuka?" pikirnya sambil mengusap debu yang menempel pada bingkai. Tanpa ragu, Rani mengangkat papan kayu itu, mengeluarkan bunyi berdecit yang menembus keheningan.

Bab 2: Lantunan Sunyi

Begitu jendela terbuka, aliran udara dingin menyusup masuk, membawa aroma tanah basah dan bau kayu lama. Di luar, hanya terlihat tirai kabut tipis yang menutupi jalanan. Namun, di antara kabut itu, terdengar sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—sebuah lantunan lembut, seolah-olah ada seseorang yang menyanyikan melodi melankolis dengan nada yang hampir tidak terdengar.

Rani menutup jendela kembali, namun suara itu terus bergema di dalam kepalanya. "Mungkin hanya imajinasiku," gumamnya, namun rasa penasaran semakin menggelitik.

Bab 3: Jejak Suara

Malam itu, ketika lampu kamar berkelip‑kelip, Rani terbangun oleh suara yang sama, lebih jelas kali ini. Suara itu datang dari dinding sebelah kiri, tepat di atas rak buku. Ia bangkit, menyalakan senter, dan menemukan sebuah panel kayu kecil yang tampak terpasang rapat.

Dengan hati‑hati, Rani membuka panel itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu berukir, berisi sebuah buku catatan tua dengan tulisan tangan yang pudar. Pada halaman pertama tertulis: "Jika kau mendengar lantunan ini, dengarkanlah. Aku menunggu di balik cahaya yang tak pernah terjamah".

Bab 4: Cerita Lama

Rani membaca catatan itu dengan cermat. Pemilik rumah sebelumnya adalah seorang penjual buku antik bernama Pak Hadi, yang hidup menyendiri sejak istrinya meninggal. Katanya, Pak Hadi menemukan sebuah jam tua di pasar loak, yang tidak pernah berhenti berdetak. Jam itu terpasang di dinding ruang tamu, mengarah ke jendela yang kini dibuka Rani.

Menurut catatan, jam itu tidak menunjukkan waktu, melainkan memanggil "suara sunyi" yang berasal dari ruang di balik jendela. Pak Hadi menulis bahwa setiap kali jam berdentang, suara itu semakin keras, seakan‑akan ada sesuatu yang mencoba keluar.

Iklan

Bab 5: Penyelidikan

Keesokan paginya, Rani memutuskan mencari jam itu. Ia menuruni tangga menuju ruang tamu, namun menemukan hanya sebuah dinding kosong. Tidak ada jejak jam. Di sudut ruangan terdapat sebuah lukisan pemandangan laut yang sudah mengelupas, dan di belakangnya, sebuah lubang kecil yang tampak seperti bekas penempatan jam.

Rani mengeluarkan senter, menyorot ke dalam lubang. Di dalamnya, ia melihat seutas tali tipis yang bergetar pelan, seolah‑olah ada sesuatu yang menahan tarikan kuat.

Bab 6: Suara yang Menyusuri

Malam berikutnya, suara lantunan kembali, lebih kuat, mengalir menembus dinding, menembus lantai, sampai ke telinga Rani yang terjaga. Ia menutup mata, mencoba memvisualisasikan asalnya. Tiba‑tiba, cahaya samar muncul di ujung lorong gelap kosnya, memancar dari celah jendela yang dulu ditutup.

Rani berani membuka jendela lagi, kali ini menurunkan tirai kabut. Di luar, ia melihat bayangan seorang pria tua dengan pakaian lusuh, berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Pria itu menatap langsung ke arah Rani, kemudian mengangkat tangannya, seakan memberi isyarat untuk mendekat.

Bab 7: Penutup

Rani melangkah keluar, menyeberang ke jalan yang berkilau oleh cahaya lampu jalan. Pria tua itu menghilang di balik bayang‑bayang gedung, meninggalkan sebuah kotak kayu di depan pintu kos.

Rani kembali masuk, membuka kotak itu, menemukan sebuah jam antik yang berdetak pelan. Saat jarum jam bergerak, suara lantunan kembali, namun kali ini lebih melankolis, seakan mengucapkan terima kasih.

Rani menutup jendela, menaruh jam itu di atas meja, dan memutuskan untuk tidak lagi membuka pintu ke dunia yang tak terlihat. Namun, setiap kali malam tiba, ia masih dapat merasakan getaran lembut di dalam ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang selalu menunggu—sebuah suara sunyi yang tak pernah mati.

Cerita ini menutup dengan Rani menyadari bahwa tidak semua bisikan harus diikuti, kadang keheningan adalah jawaban terbaik.

Iklan