Malam Sunyi di Rumah Kacang Hijau
Malam Sunyi di Rumah Kacang Hijau
Dimas menurunkan tasnya di depan rumah kontrakan tua yang terletak di gang sempit dekat pasar. Bangunan kayu berwarna cokelat tua itu pernah menjadi warung kacang hijau milik Pak Hadi, namun sejak Pak Hadi menghilang tiga tahun lalu, tempat itu hanya menjadi tempat tinggal sementara bagi pekerja migran. Dimas, seorang mahasiswa arkeologi dari Bandung, datang ke Cikahuripan untuk meneliti peninggalan kolonial di sekitar sungai. Ia menyewa kamar satu lantai atas yang menghadap ke belakang rumah, dengan satu jendela kecil yang mengintip ke pekarangan berumput.
Saat menyalakan lampu minyak tanah, cahaya redup menari-nari di dinding berlapis cat mengelupas. Di sudut ruangan, sebuah lemari kayu berukir terlihat usang, dan di atasnya tergeletak sebuah kotak logam tua yang tampak berkarat. Dimas mengingatnya dari buku catatan dosennya: "Kotak logam sering dipakai untuk menyimpan barang-barang pribadi pada masa kolonial, terkadang berisi surat atau dokumen penting". Penasaran, ia membuka kotak itu. Di dalamnya hanya ada sekeping kertas lusuh berwarna keabu-abuan, dengan tulisan tangan yang hampir tak terbaca.
"...pada malam keempat, suara berbisik akan muncul dari loteng, mengulang kembali apa yang pernah terjadi..." kata tulisan itu. Dimas mengernyitkan alis. Ia menoleh ke arah loteng yang terletak tepat di atas kamar tidurnya. Pintu kayu loteng tertutup rapat, berdebu, seakan tidak pernah dibuka selama puluhan tahun.
Malam mulai larut, dan angin sore menembus celah-celah jendela kecil, menimbulkan bunyi gesekan pada tirai tipis. Dimas menutup buku catatannya dan menyiapkan senter. Ia melangkah pelan menuju tangga sempit yang mengarah ke loteng. Setiap anak tangga berderit seolah memperingatkan langkahnya. Sesampainya di atas, ia menemukan ruangan yang hampir gelap, diterangi hanya oleh sinar senter yang menembus debu melayang.
Di tengah loteng, terdapat sebuah meja kayu berukir, di atasnya tergeletak sebuah buku harian berkulit cokelat tua. Buku itu tampak sudah lama tidak dibuka; ujung-ujungnya menghitam karena kelembapan. Dimas membuka halaman pertama dan menemukan catatan seorang wanita bernama Sari, istri Pak Hadi. Ia menulis tentang masa-masa sulit ketika usaha kacang hijau mereka hampir bangkrut karena wabah penyakit tanaman. Pada entri tanggal 12 Agustus 1946, Sari menuliskan:
"Suara itu kembali lagi. Setiap kali hujan turun, ada bisikan yang datang dari dinding. Kami tidak tahu apa itu, tapi rasanya seperti ada yang mengingatkan kami tentang sesuatu yang belum selesai. Aku takut mengatakannya kepada Pak Hadi."
Dimas merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ia melanjutkan membaca, menemukan catatan lain yang lebih mengerikan. Pada entri berikutnya, Sari menulis tentang seorang pria asing yang datang ke rumah mereka pada malam gelap, membawa sebuah kotak logam yang berisi surat-surat resmi. Pria itu mengaku sebagai pejabat kolonial yang menyelidiki pencurian bahan baku kacang hijau untuk dijual ke pasar gelap. Sari menutup buku dengan perasaan takut, menuliskan bahwa pria itu menghilang begitu saja, meninggalkan kotak yang tak pernah dibuka.
Saat Dimas menutup buku, terdengar suara langkah kaki di lantai bawah. Ia menurunkan senter, mencoba mendengarkan. Suara itu terdengar seperti gesekan sepatu bot yang basah, perlahan menapaki lantai kayu. Dimas menahan napas. Di luar loteng, suara itu semakin mendekat, namun tak ada bayangan yang terlihat melalui jendela kecil. Tiba-tiba, lampu senter yang ia pegang berkedip dan padam.
Kegelapan menelan seluruh ruangan. Hanya ada bisikan samar yang terdengar, seolah-olah suara orang-orang lama yang terperangkap dalam dinding. "...kembali..." bisik suara itu, mengulang kata yang sama berulang-ulang.
Dimas mengeluarkan ponsel, menyalakan lampu senter darinya, dan melihat sesuatu yang membuatnya terdiam. Di sudut loteng, di balik lemari tua, terdapat sebuah lubang kecil yang menganga ke dalam dinding. Dari lubang itu, cahaya redup menyala, menimbulkan bayangan panjang yang menari di atas lantai kayu.
Dengan hati-hati, Dimas mendekati lubang itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah ruang sempit yang berisi sekumpulan benda-benda kecil: sebuah kalung manik-manik berwarna biru, sebuah botol kaca berisi cairan keruh, dan sebuah buku kecil yang tampaknya berisi mantra atau doa tradisional. Dimas mengangkat buku kecil itu, dan ketika ia membuka halamannya, tulisan tangan yang berbeda muncul: "Jangan biarkan mereka kembali, karena mereka akan membawa kehancuran bagi yang mendengarkan".
Seketika, suara bisikan menjadi lebih keras, seakan-akan menembus kepalanya. Dimas merasakan kepalanya berdenyut, seakan ada sesuatu yang menekan pikirannya. Ia menutup buku dan menatap ke luar jendela, di mana hujan kini turun dengan deras, menimbulkan riak-riak di atap rumah.
Sebuah pukulan keras terdengar di pintu loteng. Dimas terkejut, melompat mundur. Pintu terbuka perlahan, menampilkan siluet seorang pria tua berjas hujan, wajahnya tertutup topi lebar. Pria itu tidak berbicara, hanya mengulurkan tangan ke arah Dimas.
"Bantu aku," bisik pria itu dengan suara serak. "Aku terperangkap di sini sejak perang selesai, menunggu seseorang yang dapat membuka kotak dan mengembalikan apa yang telah hilang."
Dimas terdiam. Ia ingat kembali kotak logam yang ia temukan di ruang tamu, yang masih terletak di atas lemari. Tanpa ragu, ia berlari turun, mengambil kotak itu, dan kembali ke loteng. Ia meletakkan kotak di atas meja, membuka penutupnya dengan hati-hati. Di dalamnya, selain kertas lusuh yang telah dibaca sebelumnya, terdapat sebuah lencana militer tua dengan tulisan "Pemerintahan Kolonial 1946".
Pria tua di sampingnya mengangguk, matanya berkilau. "Itu milik ayahku," katanya. "Dia menulis surat kepada Sari, menegaskan bahwa kacang hijau itu tidak boleh dijual ke pasar gelap, karena ada ramuan beracun yang tersembunyi di dalamnya. Ketika mereka melanggar perintah itu, mereka mengirimkan pasukan untuk menghancurkan seluruh ladang. Aku berjanji akan melindungi rahasia itu, tapi mereka mengurungku di dalam dinding ini."
Suara bisikan menghilang, digantikan oleh keheningan yang menekan. Pria tua menghilang secara perlahan, meninggalkan Dimas sendirian di loteng. Dimas menatap lencana itu, merasakan beban sejarah yang berat. Ia menyadari bahwa rumah kacang hijau itu menyimpan lebih dari sekadar kenangan lama; ia menyimpan rahasia kelam yang hampir terlupakan.
Keesokan paginya, Dimas menuliskan temuan ini dalam laporan arkeologinya, melampirkan foto-foto kotak logam, buku harian Sari, dan lencana militer. Ia mengirimkan laporan itu kepada dosennya, sekaligus menulis surat kepada keluarga Pak Hadi, memberi tahu mereka bahwa warisan mereka telah terungkap kembali.
Desa Cikahuripan kembali tenang, namun setiap kali hujan turun, penduduk yang melintas di depan rumah kontrakan itu sering mengaku mendengar bisikan lembut, seolah-olah mengingatkan mereka akan janji yang tak pernah terpenuhi.