Horor

Mendengar Lantunan di Lorong Sore: Cerita Hantu di Apartemen Tua

Mendengar Lantunan di Lorong Sore: Cerita Hantu di Apartemen Tua

Dinda menatap pintu utama apartemen tiga lantai yang terletak di pinggir jalan raya kecil di Kelurahan Sinar Pucuk. Bangunan itu berwarna tembaga kusam, catnya mengelupas di sudut-sudutnya, dan jendela‑jendela kayu berderit tiap kali angin lewat. Meskipun begitu, Dinda memutuskan untuk menyewa unit 2B karena harganya jauh lebih terjangkau daripada kos‑kos modern di pusat kota.

Setelah menurunkan koper‑koper besar, ia menata kamar kecilnya: sebuah ranjang single, lemari kayu tua, dan meja belajar yang masih mengeluarkan aroma cat minyak. Lampu neon di sudut ruangan berkedip‑kedip, memberi kesan sepi yang menambah rasa canggung. Dinda menyalakan radio kecil, mengalirkan musik pop ringan untuk mengusir keheningan yang terasa menekan.

Malam pertama ia tidur dengan suara angin yang menembus celah‑celah jendela. Pagi berikutnya, ia beranjak ke dapur bersama tetangga sebelah, Pak Jaya, seorang pria paruh baya yang menempati unit 1A. Pak Jaya menawari teh hangat sambil bercerita tentang sejarah bangunan itu.

"Bangunan ini dulunya rumah milik seorang pianis," kata Pak Jaya, mengaduk teh dengan sendok kayu berkarat. "Dia tinggal di lantai dua, menulis lagu‑lagu sedih. Katanya, pada suatu malam, dia menghilang tanpa jejak. Sejak itu, orang‑orang kadang mendengar alunan piano dari lorong belakang, tapi tidak ada yang pernah lihat siapa yang memainkannya."

Dinda mengangguk, menelan teh yang terasa pahit. "Apakah ada yang pernah melaporkan hal itu ke pihak keamanan?" tanya dia, penasaran.

"Sudah banyak yang mengeluh, tapi pemiliknya tak mau mengusirnya. Mereka bilang itu hanya angin atau suara tetangga. Tapi kalau malam turun, lantunan itu semakin jelas," jawab Pak Jaya, menatap jendela yang menampilkan cahaya kelabu pagi.

Hari itu Dinda kembali ke pekerjaannya di kantor pemasaran. Pada sore harinya, ketika ia kembali ke apartemen, suasana terasa lebih gelap dari biasanya. Lampu lorong berkelap‑kelip, dan ada bau lembap yang menguar dari sudut dinding. Ia menutup pintu kamar, menyalakan lampu meja, dan menyiapkan makan malam sederhana.

Tiba-tiba, sebuah melodi piano lembut mengalun dari lorong. Suaranya tidak keras, melainkan seakan dipetik dari jauh, menembus dinding tipis. Dinda berhenti mengiris bawang, telinganya terfokus pada nada‑nada minor yang berulang‑ulang.

"Mungkin tetangga lagi latihan," gumamnya sambil menatap ke arah pintu lorong. Namun, ketika ia melangkah keluar, tidak ada seorang pun di sana. Lorong itu hanya dipenuhi cahaya lampu neon yang berpendar redup, dinding bercat kusam, dan lantai berkarpet usang.

Piano tak terlihat, namun alunan musik terus mengalir, menembus ruang hampa. Dinda merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menutup telinga dengan kedua tangannya, namun nada‑nada itu tetap mengalir melalui tulang kepalanya. Ia mengumpulkan keberanian, melangkah pelan menuju sumber suara.

Setelah menelusuri lorong selama beberapa menit, Dinda menemukan sebuah pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik rak sepatu. Pintu itu tampak usang, dengan pegangan besi berkarat. Pada permukaannya terdapat coretan-coretan samar yang tidak dapat dibaca dengan jelas.

Dengan rasa penasaran yang mengalahkan ketakutan, Dinda memutar pegangan. Pintu berderit terbuka, mengungkap ruangan kecil yang tampak seperti ruang latihan musik. Di dalamnya terdapat sebuah piano grand berwarna hitam mengkilap, tampak bersih meskipun usianya tampak berabad‑abad.

Piano itu tidak berdebu; sebaliknya, tampak seperti baru dipoles. Di atasnya terletak selembar kertas musik yang terlipat rapi, dengan judul “Lagu Malam Terakhir” tertulis dengan tinta keemasan. Dinda membuka kertas itu, dan membaca notasi yang tampak rumit namun indah.

Tanpa sadar, ia menekan satu tuts piano. Suara itu mengalir kembali ke lorong, seakan menanggapi panggilan Dinda. Namun, ketika ia menekan tuts berikutnya, suara berubah menjadi melodi yang lebih dalam, seakan mengisyaratkan sesuatu yang belum selesai.

Iklan

Tiba‑tiba, cahaya lampu di ruangan itu berkedip, dan bayangan panjang muncul di dinding, menari mengikuti alunan musik. Bayangan itu berbentuk siluet seorang pria dengan jas hitam, rambut bergelombang, dan ekspresi wajah yang melankolis. Ia berdiri di samping piano, menatap Dinda dengan mata kosong.

"Siapa kamu?" Dinda berbisik, suaranya bergetar.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menekan beberapa tuts lagi, menciptakan melodi yang menembus jiwa. Dinda merasakan ingatan‑ingatan samar muncul: seorang pianis bernama Arif, yang pernah menempati apartemen itu pada tahun 1970‑an, terobsesi menciptakan karya terakhir sebelum menghilang.

Sejenak, Dinda melihat kilas‑balik: Arif berjuang melawan depresi, menulis “Lagu Malam Terakhir” sebagai upaya mengungkap rasa sakitnya. Pada malam sebelum menghilang, ia duduk di piano itu, menutup mata, dan menekan tuts terakhir—tuts yang tidak pernah selesai.

Kembali ke realitas, Dinda merasakan getaran aneh di udara. Bayangan pria itu perlahan menghilang, meninggalkan piano yang kini berderak‑derak. Tanpa sengaja, Dinda menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 00:13.

Dia sadar bahwa setiap malam, pada pukul yang sama, musik itu kembali terdengar. Namun, kali ini ia memutuskan tidak lari. Ia duduk di bangku piano, mengatur napas, dan mulai memainkan notasi yang ada di kertas.

Melodi yang ia mainkan terasa mengalir bersama napasnya, seolah‑olah mengisi kekosongan yang selama ini menahan arif. Setiap nada yang keluar membawa rasa damai, melunakkan rasa takut yang menempel pada dinding apartemen.

Saat ia menyelesaikan bar terakhir, sebuah suara lembut terdengar, seperti bisikan angin melalui celah jendela. "Terima kasih," terdengar dalam hati Dinda, seolah‑olah Arif mengucapkan rasa terima kasihnya lewat melodi.

Sejak malam itu, lorong tidak lagi dipenuhi musik melankolis yang menakutkan. Sebaliknya, hanya keheningan yang hangat, seakan‑akan ruangan itu telah menemukan ketenangan. Dinda terus tinggal di apartemen itu, namun kini ia tidak lagi merasa sendirian.

Beberapa minggu kemudian, Pak Jaya kembali mengunjungi Dinda, membawa secangkir teh lagi. "Sudah tidak ada lagi musik di lorong?" tanyanya dengan senyum tipis.

"Tidak lagi," jawab Dinda, menatap ke arah piano yang kini tersembunyi di balik pintu kecil. "Saya rasa dia sudah menemukan apa yang dia cari."

Pak Jaya mengangguk, mengerti bahwa ada sesuatu yang tak terucapkan di antara mereka. "Kadang, yang kita dengar bukanlah suara, melainkan panggilan hati," katanya sambil menutup pintu lorong.

Dinda menatap kembali ke luar jendela, melihat cahaya senja menembus tirai tipis. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman kecil di seberang jalan. Ia menutup mata, merasakan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Epilog

Bulan berganti, dan apartemen tua itu tetap berdiri, menahan jejak‑jejak masa lalu. Setiap kali ada penghuni baru, lorong itu tetap tenang, kecuali pada pukul 00:13, ketika melodi halus kembali terdengar—tapi kali ini, bukan sebagai suara yang menakutkan, melainkan sebagai lullaby yang menenangkan, menandakan bahwa jiwa yang tersesat telah menemukan jalan pulang.

Iklan