Lentera Tua di Lorong Pasar Malam
Lentilanya Berbisik
Dwi menuruni tangga sempit rumah kontrakan di gang sempit, mengusap keringat yang masih menempel di dahi setelah seharian membantu ibunya menjual sayur di pasar. Ia menyiapkan tas kecil berisi buku catatan, pulpen, dan sebotol air mineral—perlengkapan wajib setiap malamnya menyusuri pasar malam di Desa Cikahuripan. Malam itu, pasar sedang bersinar dengan lampu warna-warni, suara tawar menawar, dan aroma bakso serta jagung bakar yang menguar.
Sahabatnya, Raka, menunggu di sudut lapak sate ayam. "Kita ke lorong lampu lentera dulu, kan?" tanya Raka sambil menepuk bahu Dwi. "Ada cerita lama tentang lentera yang tidak pernah mati," tambahnya dengan mata bersinar.
Mereka menembus kerumunan, melewati gerobak-kerobak yang menutupinya dengan cahaya kuning temaram. Di ujung pasar, terdapat lorong sempit yang dipenuhi lentera minyak berukir, masing-masing menempel pada kayu usang. Lorong itu jarang dilalui orang karena angin malam sering membuat lentera berkelip‑kelip, menimbulkan bayangan menakutkan di dinding batu.
Suara yang Tak Kelihatan
Saat mereka melangkah masuk, Dwi merasakan suhu menurun beberapa derajat. Raka menyalakan ponselnya, menyorot ke arah lentera. Tiba‑tiba, satu lentera di tengah lorong menyala lebih terang daripada yang lain, meski tidak ada yang menyalakannya. Cahaya itu menembus kegelapan, menampilkan bayangan panjang di dinding batu, seakan menari.
"Ada apa itu?" bisik Dwi, suaranya bergetar. Raka mencondongkan telinga ke arah lentera, mendengar desisan halus, seperti bisikan yang terbungkus dalam angin.
"Dengar..." suara itu terdengar samar, "...kembalikan...".
Mereka berdua menatap lentera itu, namun tidak ada apa‑apa di sekitarnya selain batu dan kayu. Raka mengulurkan tangannya, namun lentera tetap bersinar seakan ada sesuatu yang menolak disentuh.
Jejak di Balik Kertas Usang
Di antara lentera, terdapat sebuah kotak kayu kecil, tergeletak di atas lantai berdebu. Kotak itu berisi sekumpulan kertas usang berwarna kehitaman. Dwi mengambil satu lembar, mengusapnya dengan jari. Tulisan yang hampir pudar terbaca: "Jika kau menemukan ini, jangan pernah menyalakan kembali cahaya yang terpadam. Karena ia mengikat jiwa yang terperangkap di sini."
Dwi mengernyitkan alis. "Siapa yang menulis?" tanya Raka. "Mungkin orang lama yang takut pada lentera itu," jawab Dwi, namun nada suaranya sudah berubah, lebih serius.
Mereka memutuskan meninggalkan kotak itu, tetapi lentera di tengah lorong tetap bersinar, seolah menunggu respons mereka.
Teka‑Teki yang Menjadi Nyata
Tanpa sadar, Dwi menurunkan pulpennya ke lantai, dan suara berderak terdengar saat pulpen itu jatuh pada batu. Dari retakan batu, muncul suara desah lemah, seperti napas yang tertahan lama.
"Kau tak mengerti," bisikan itu kembali, lebih jelas kali ini, "Aku terkurung di dalam cahaya. Lepaskan aku, atau kau akan terjebak bersamaku."
Raka menggeleng, "Kita tidak mengerti apa‑apa. Mungkin ini hanya cerita lama yang diputar‑putar kembali."
Namun, lentera semakin terang, menembus wajah mereka, memperlihatkan siluet samar seorang wanita berpakaian kebaya lusuh, berdiri di belakang lentera. Wajahnya pucat, mata hitam pekat menatap lurus ke arah mereka.
Kisah Sang Penjaga Lentera
Wanita itu, dalam sekejap, menghilang, meninggalkan bau dupa yang sudah usang. Dwi teringat sebuah legenda yang pernah didengarnya dari neneknya: "Di pasar lama, ada penjaga lentera yang mengikat jiwa pelaku ke dalam cahaya, agar tak lagi mengganggu dunia."
Raka menatap Dwi, "Kita harus keluar dari sini, sebelum…"
Tiba‑tiba, lentera di ujung lorong menutup rapat, menimbulkan gelap total. Hanya satu lentera yang masih menyala, memancarkan cahaya yang kini berwarna merah gelap.
Keputusan yang Menentukan
Dwi mengingat kata‑kata di kertas: "Jangan menyalakan kembali cahaya yang terpadam." Ia menutup mata, mengambil napas dalam, lalu memegang kotak kayu itu dan mengangkatnya ke lentera merah. Dengan perlahan, ia memutar sebuah tombol kecil yang tersembunyi di sisi kotak, menekan tombol itu seakan memutus aliran energi.
Cahaya merah itu bergetar, kemudian memudar menjadi kelap‑kelip, sebelum akhirnya mati total. Suasana kembali sepi, hanya suara langkah mereka yang menembus debu.
Keluar dari Lorong
Mereka berlari keluar dari lorong, kembali ke keramaian pasar. Lampu-lampu modern bersinar, dan suara tawa penjual mengisi udara. Lentera‑lentera tua di lorong tetap mati, seakan tidak pernah menyala kembali.
Raka menepuk bahu Dwi, "Kita selamat. Tapi kenapa harus ada bisikan itu?"
Dwi menatap ke arah lorong yang kini gelap, "Mungkin ada yang masih terkurung di sana, menunggu seseorang yang berani mengakhiri ikatan itu."
Malam itu, mereka kembali ke rumah masing‑masing, namun rasa dingin masih menggelayuti punggung mereka. Dwi menaruh kotak kayu di lemari, menutup rapat, dan menuliskan catatan di buku hariannya: "Lentera tidak lagi bersuara. Tapi aku masih merasakan ada mata yang mengawasi, menunggu kesempatan berikutnya."
Cerita ini mengajak pembaca merasakan ketegangan di pasar malam yang biasanya riuh, namun menyimpan rahasia kelam yang terpendam dalam cahaya lentera tua. Tanpa kekerasan grafis, atmosfer menegangkan tercipta lewat bisikan, bayangan, dan keputusan berani yang diambil oleh dua sahabat.