Horor

Lentera Meredup di Puncak Tebing Tua

Lentura Meredup di Puncak Tebing Tua

Malam itu, kabut menebal di atas desa Kalisari, menutupi jalan setapak yang biasanya dipenuhi suara jangkrik. Angin berdesir lembut, mengusap dedaunan kering, sementara bulan tersembunyi di balik awan kelabu. Di ujung desa, berdiri sebuah menara batu yang telah lama ditinggalkan—Lentera Meredup, dulu berfungsi sebagai suar pelayaran bagi para nelayan. Kini, hanya sekadar siluet kelam yang menatap ke arah laut yang bergelombang.

Arif, pemuda berusia dua puluh tiga tahun, baru saja kembali dari kota untuk mengurus urusan warisan keluarganya. Ia menemukan surat lama dari kakeknya yang mengundang Arif untuk mengunjungi menara itu pada malam tertentu. Surat itu berisi satu kalimat saja: "Datanglah ketika jam tiga berdentang, dan dengarkan apa yang belum pernah kamu dengar."

Dengan rasa penasaran yang menggelitik, Arif menyiapkan ransel sederhana—sebuah botol air, senter, dan sebuah buku catatan. Ia melangkah melewati jalan berdebu, menembus kabut yang semakin pekat. Setiap langkah mengeluarkan suara berderak pada batu-batu kerikil, seolah menandai perjalanan ke arah yang tak terduga.

Sesampainya di dasar menara, Arif melihat pintu kayu yang hampir menutup rapat. Pintu itu berderit ketika ia mendorongnya, mengeluarkan suara serak yang seakan memanggilnya masuk. Di dalam, ruangan berbau lembap, dindingnya ditutupi lumut hijau, dan satu satu lampu minyak tergantung berayun perlahan. Di tengah ruangan terdapat sebuah jam antik yang berdiri di atas meja kayu tua, jarumnya terhenti pada angka tiga.

Arif menyalakan senter, cahaya kuningnya menari di antara celah-celah batu. Ia mendekati jam itu, mengamati jarum jam yang berkarat. Tiba-tiba, suara berdentang bergema: tiktak, tiktak, tiktak. Jam itu mulai bergerak, meskipun tidak ada energi yang menggerakkannya. Detak demi detak menambah ketegangan di dalam ruangan yang sunyi.

Setiap kali jarum menit bergerak, suara yang muncul berubah. Pertama, terdengar desahan angin yang seakan berbisik, "Berhenti…". Lalu, suara langkah kaki yang lembut, seolah seseorang berjalan di atas tanah berpasir. Arif menutup telinga, namun suara itu terus berlanjut, menembus kepalanya.

Dia membuka buku catatannya, menuliskan setiap bunyi yang terdengar. "Tiktak jam, bisikan angin, langkah tak terlihat," tulisnya. Di halaman berikutnya, ia menambahkan sketsa menara, memperlihatkan detail jam, dan menandai posisi pintu masuk. Sesuatu dalam dirinya mulai bergetar; bukan ketakutan semata, melainkan rasa ingin tahu yang tak dapat diabaikan.

Ketika jarum jam mencapai angka empat, cahaya lentera di puncak menara tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya temaram yang menembus kabut di luar. Arif menengok ke arah jendela kecil di atas, melihat cahaya itu berkelip seolah-olah menunggu sesuatu.

Tiba-tiba, suara yang paling menakutkan muncul: sebuah melodi lembut, hampir seperti nyanyian anak kecil yang hilang. Nada-nada itu mengalir melalui ruangan, menimbulkan getaran pada dinding batu. "Kau datang," bisik melodi itu, "kembalikan apa yang terlepas."

Arif merasakan dingin yang menyusup ke tulang punggungnya. Ia menatap jam yang kini berdetak lebih cepat, seakan terburu‑buruk. Dalam sekejap, jam itu mengeluarkan kilatan cahaya biru yang memancar ke arah lantai, mengungkapkan sebuah lubang kecil di antara batu‑batu lantai.

Lubang itu tampak seperti sebuah portal mini, berwarna keperakan, berkilau di balik cahaya lampu minyak. Arif mengulurkan tangan, merasakan getaran halus pada jari-jarinya. Ia menahan napas, lalu menurunkan kepalanya ke dalam lubang itu. Sesaat, dunia di sekelilingnya berubah menjadi kabut putih yang berputar.

Iklan

Dia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan lain—sebuah ruangan yang tampak seperti ruang tunggu di stasiun lama, dengan kursi kayu berdebu dan papan pengumuman berkarat. Di dinding, terdapat foto-foto hitam putih para pelaut yang pernah menunggu di pelabuhan. Salah satu foto menampilkan seorang pria berambut panjang, mengenakan seragam kapal abad ke-19, dengan tatapan mata yang tajam.

Arif mengenali sosok itu—kakeknya, Raden Jaya, yang pernah menjadi kapten kapal laut. Di balik foto, terukir tulisan: *"Tiga menit sebelum gelombang menghilang, kami menunggu sinyal."

Sebuah rasa dingin mengalir di punggungnya saat ia menyadari bahwa menara lentera itu bukan sekadar penunjuk jalan bagi kapal, melainkan penjaga waktu yang menunggu para pelaut kembali. Jam yang berdentang merupakan panggilan bagi mereka yang terperangkap di antara dunia.

Ketika jam di menara kembali berdentang pada angka lima, suara melodi berubah menjadi bisikan yang lebih jelas, "Buka pintu, temukan apa yang tersembunyi."

Arif menatap kembali ke lubang, lalu memutuskan untuk kembali ke menara. Begitu ia melangkah keluar dari portal, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil tergeletak di lantai, berlapis debu. Kotak itu terkunci, namun ada sebuah kunci kecil yang terletak di sampingnya, berkilau seperti cahaya bulan.

Dengan gemetar, Arif membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah lensa kaca bulat berwarna keemasan, berukir motif laut yang rumit. Lensa itu tampak memancarkan cahaya lembut, seakan mengandung rahasia lautan. Saat ia memegang lensa, ia melihat bayangan kapal-kapal tua melintas di sekelilingnya, menandakan bahwa menara itu memang menjadi jembatan antara dua dunia.

Arif menyadari bahwa lensa itu adalah "Lensa Penjaga Gelombang"—benda yang pernah dibawa kakeknya untuk menenangkan jiwa-jiwa pelaut yang terperangkap. Lensa itu dapat menenangkan badai di laut, namun juga dapat memanggil kembali roh-roh yang belum selesai.

Saat ia mengangkat lensa ke arah lampu lentera, cahaya lentera berubah menjadi cahaya putih bersinar, menembus kabut di luar. Dari kejauhan, terdengar suara ombak yang menenangkan, menandakan bahwa laut kembali tenang.

Jam di menara berhenti pada angka enam, menandakan akhir dari panggilan. Arif menutup kotak, menaruh lensa kembali ke dalamnya, dan menaruhnya di rak kayu yang tersembunyi. Ia menyalakan senter sekali lagi, lalu melangkah keluar menara, kembali ke desa yang masih diselimuti kabut.

Sesampainya di rumah, ia menuliskan semua yang terjadi dalam buku catatannya, menandai tanggal dan jam. Ia menutup buku itu dengan rasa lega, namun juga dengan kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih besar menunggu di luar sana, di balik cahaya lentera yang meredup.

Malam itu, ketika jam di rumahnya berdentang pada angka tiga, Arif mendengar kembali bisikan halus yang mengalir melalui dinding—"Terima kasih, anakku."

Ia menatap ke arah jendela, melihat cahaya lentera di menara masih menyala, menunggu pemilik berikutnya yang berani mendengar bisikannya.

Iklan