Suara dari Sumur Tua
Rani baru tiga hari menempati rumah warisan neneknya di ujung kampung ketika ia pertama kali mendengarnya—suara lirih yang memanggil namanya dari arah sumur tua di belakang rumah, tepat ketika lampu-lampu mulai dipadamkan menjelang tengah malam.
Ia ingat pesan terakhir neneknya sebelum meninggal: apa pun yang terjadi, jangan pernah menjawab suara dari sumur itu, dan jangan pernah menengok ke dalamnya setelah matahari terbenam.
Malam kedua, suara itu semakin jelas. Bukan lagi memanggil nama, tapi meniru suara ibunya—memohon untuk dibukakan pintu belakang. Rani menutup telinganya dengan bantal, mengulang-ulang dalam hati bahwa ibunya sedang di kota, tiga jam perjalanan dari sini.
Malam ketiga, ia memberanikan diri menyalakan senter dan berjalan ke jendela dapur. Di bawah cahaya bulan, tutup kayu sumur itu—yang sejak ia datang selalu tertutup rapat dan diikat rantai—tergeletak terbuka di rerumputan.
Suara itu berubah lagi. Kali ini suaranya sendiri, memanggil dari dalam sumur, memohon untuk ditolong seolah-olah dirinyalah yang terjebak di bawah sana.
Rani mundur perlahan dari jendela, jantungnya berdegup kencang. Ia memutuskan menelepon pamannya, satu-satunya kerabat yang tahu betul sejarah rumah ini. Suara di telepon itu terdengar tenang, terlalu tenang.
"Jangan bicara dengannya," kata pamannya. "Dan jangan pernah beri tahu dia namamu yang sebenarnya. Nenek hanya bertahan enam puluh tahun karena dia tak pernah menjawab satu kali pun."
Rani bertanya siapa "dia" yang dimaksud. Telepon itu mati sebelum pamannya sempat menjawab, dan ketika ia mencoba menghubungi lagi, yang terdengar dari ujung line bukan nada sambung biasa—melainkan suara yang sama, lirih, dari arah sumur, kini memanggil dari dalam telepon di tangannya sendiri.
Ia meletakkan telepon itu perlahan-lahan di meja, dan untuk pertama kalinya sejak pindah, mematikan semua lampu di rumah, duduk diam di kegelapan, menunggu pagi dengan mata yang menolak untuk terpejam.