Romantis

Matahari di Balik Jendela Lembaran Baru Cinta

Bab 1: Lembaran yang Terlupakan

Raka baru saja menyelesaikan semester akhir jurusan Sastra Indonesia. Ia menghabiskan banyak malam di perpustakaan kampus, menyelam dalam tumpukan buku klasik, mencari bahan untuk skripsi tentang narasi nostalgia.

Suatu sore, ketika hujan gerimis menetes pelan di jendela, Raka menemukan sebuah rak sempit di sudut paling belakang ruangan. Rak itu dipenuhi buku-buku bekas yang tampak tak terurus: novel usang, antologi puisi, dan satu buku berkulit coklat tua yang tampak berbeda. Sampulnya tidak ada judul, hanya sebuah gambar kecil berupa jendela tua dengan tirai setengah terbuka.

Tanpa sadar, Raka menarik buku itu dan menutupnya. Di dalamnya, selain halaman-halaman yang mulai menguning, terdapat sekumpulan amplop berwarna krem yang terikat dengan pita tipis. Setiap amplop berisi surat-surat yang ditulis dengan tinta hitam pekat, tanggal-tanggalnya berkisar antara 1998 hingga 2002.

Raka membuka satu per satu. Surat-surat itu ditujukan kepada seseorang bernama Alya, seorang mahasiswi jurusan Seni Rupa yang pernah menempuh kuliah di kampus yang sama. Penulis surat itu tak lain adalah Dimas, seorang mahasiswa teknik yang tampaknya memiliki perasaan mendalam namun tak pernah mengungkapkannya secara langsung.

Bab 2: Jejak Cinta yang Terselip

Membaca surat-surat itu, Raka merasakan getaran emosional yang tak biasa. Dimas menuliskan puisi pendek di setiap akhir surat, menggambarkan cahaya matahari yang memantul pada jendela kampus saat Alya melangkah masuk kelas. Ia menuliskan hal‑hal sederhana: bau kopi di kantin, suara hujan di atap gedung, hingga rasa rindu yang muncul setiap kali Alya tersenyum pada sahabatnya.

Raka teringat kembali pada masa kuliahnya sendiri, ketika ia pernah menaruh harapan pada seorang teman sekelas bernama Nina. Namun, rasa takut mengungkapkan perasaannya selalu menghalangi langkahnya. Kini, lewat surat-surat Dimas, Raka menemukan cermin yang memantulkan kembali kerinduan dan keberanian yang belum pernah ia miliki.

Salah satu surat berisi gambar sketsa kecil jendela kampus yang sama, dengan catatan di pojok: "Jika suatu hari kau menemukan surat ini, ketahuilah bahwa matahari selalu menunggu di balik tirai, menunggu saat kau siap membuka." Kalimat itu menggugah hati Raka, seolah memberi isyarat bahwa setiap cinta memiliki waktunya sendiri.

Bab 3: Menemui Alya

Raka memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Alya. Ia menghubungi alumni kantor administrasi kampus, menanyakan data kontak lama. Setelah beberapa panggilan, ia mendapatkan nomor telepon yang masih aktif. Raka menelpon dengan hati berdebar.

"Halo, selamat sore. Apakah saya sedang berbicara dengan Ibu Alya?" tanya Raka. Suara di ujung telepon terdengar lembut, namun penuh kejutan.

"Ini Alya. Siapa ini?" jawabnya.

Raka memperkenalkan diri, menjelaskan tentang buku dan surat‑surat yang ia temukan. Alya terdiam sejenak, lalu tawa kecilnya terdengar. "Saya tidak menyangka surat‑surat itu masih ada. Dimas… dia sudah lama pergi, tapi kenangannya masih hidup dalam buku‑buku lama ini. Terima kasih sudah mengembalikannya kepada saya."

Iklan

Percakapan itu berlanjut selama hampir satu jam. Alya menceritakan bagaimana Dimas meninggal dalam sebuah kecelakaan motor pada tahun 2003, sebelum sempat menyatakan perasaannya secara terbuka. Surat‑surat itu, baginya, adalah satu-satunya saksi bisu dari cinta yang tak pernah terucapkan.

Raka merasa terharu. Ia menyadari betapa pentingnya mengungkapkan perasaan sebelum waktu menutup pintu.

Bab 4: Menggenggam Kesempatan

Setelah percakapan itu, Raka tidak hanya menemukan cerita Dimas dan Alya, tetapi juga menemukan keberanian dalam dirinya. Ia menulis email kepada Nina, mengungkapkan semua yang ia rasakan selama masa kuliah. Ia menulis, "Aku tidak ingin lagi menunggu matahari terbenam tanpa memberitahumu apa yang ada di dalam hati ini."

Nina membalas dengan hangat, mengakui bahwa ia juga pernah merasakan hal yang sama, namun takut mengganggu persahabatan mereka. Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe kecil yang berada di sudut kampus, tempat mereka dulu sering belajar bersama.

Saat mereka duduk berhadapan, sinar matahari sore menembus jendela kaca, menciptakan pola cahaya yang menari di atas meja. Raka mengeluarkan sebuah amplop kecil, mirip dengan yang ia temukan di buku Dimas. Di dalamnya, ia menuliskan sebuah puisi pendek yang terinspirasi dari surat‑surat Dimas:

"Jika matahari menunggu di balik tirai, biarlah aku membuka jendela hati ini untukmu, kini dan selamanya."

Nina tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Aku sudah menunggu cukup lama," katanya.

Bab 5: Lembar Baru

Beberapa bulan kemudian, Raka menuntaskan skripsinya dengan judul "Suara Hati dalam Lembaran Kertas: Analisis Surat Cinta Tertunda". Ia menyertakan kisah Dimas dan Alya sebagai contoh nyata bagaimana kata‑kata dapat menjadi jembatan antara dua jiwa yang terpisah oleh waktu.

Di hari kelulusan, Raka berdiri di atas panggung, memegang sertifikatnya. Di antara sorak sorai teman‑teman, ia melihat Alya di antara penonton, tersenyum lebar. Alya menepuk bahu Raka, memberi isyarat bahwa kisah mereka kini menjadi bagian dari sebuah cerita baru yang terus berlanjut.

Raka menutup ceritanya dengan sebuah catatan di akhir skripsi: "Cinta tidak selalu harus diucapkan dengan kata‑kata besar. Kadang, ia tersembunyi di antara lembaran-lembaran yang tampak tak berarti, menunggu saat yang tepat untuk bersinar kembali."

Cerita ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa setiap perasaan, sekecil apa pun, layak untuk diungkapkan. Karena di balik setiap jendela yang tertutup, selalu ada cahaya yang menunggu untuk menyapa hati yang berani membuka.

Iklan