Kisah Di Bawah Pohon Mangga Tua
Bab 1: Pulang ke Kampung
Udara sore di Desa Cikahuripan selalu berbau tanah basah dan aroma mangga yang hampir matang. Dinda menurunkan koper ke dalam ruang tamu rumah kontrakan tua milik pamannya, Pak Wira, yang dulu dulu pernah menjadi tempat bersembunyi saat hujan deras. Ia menatap jendela yang terbuka, menembus sinar matahari yang menembus tirai tipis, mengundang kenangan masa kecilnya.
"Dinda, kamu sudah lama tak pulang," suara serak Pak Wira memecah keheningan. "Rumah ini masih sama, cuma pohon mangga di depan rumah sudah tumbuh besar."
Dinda tersenyum, mengingat bagaimana ia dulu memanjat pohon itu untuk mengambil buah paling manis, lalu menukarnya dengan koin kecil ke Pak Wira. "Aku rindu," bisiknya, sambil menatap ke luar, ke arah pohon mangga yang menjulang di halaman belakang.
Bab 2: Pertemuan Tak Terduga
Keesokan harinya, Dinda memutuskan berjalan ke pasar desa. Di tengah kerumunan pedagang yang menawarkan sambal terasi, ikan bakar, dan kerupuk tempe, ia mendengar suara yang familiar. "Hey, Dinda!" panggil seorang pria dengan rambut hitam berantakan dan mata yang selalu bersinar ceria.
Itu Arif, teman sekelasnya di SMA, yang kini menjadi barista di kafe kecil dekat terminal bus. Mereka dulu pernah bersaing dalam lomba menulis puisi, dan kini keduanya terjebak dalam rutinitas yang sama: menunggu waktu luang untuk menatap langit senja.
Arif menawari secangkir kopi hitam pekat. "Kita sudah lama tak ngobrol, kan?" tanyanya sambil menambahkan sejumput gula kelapa. Dinda menatap kopi itu, mengingat bagaimana dulu mereka berbagi mimpi di bawah pohon mangga, berjanji akan menaklukkan dunia bersama.
Bab 3: Kenangan di Bawah Daun
Mereka memutuskan duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga, tempat yang dulu menjadi saksi bisu semua rahasia mereka. Angin berhembus lembut, menggoyang ranting yang meneteskan buah segar. "Ingat nggak, waktu kita menulis surat rahasia di balik daun mangga?" tanya Arif sambil tertawa.
Dinda mengangguk, mengeluarkan sebuah buku catatan lusuh dari tasnya. Di dalamnya ada coretan-coretan puisi yang dulu mereka tulis bersama. "Aku masih simpan semuanya," katanya, menatap mata Arif. "Aku masih ingat setiap kata yang kau tulis, bahkan yang paling bodoh sekalipun."
Arif menatapnya dengan tatapan lembut. "Aku juga menyimpan semua itu. Tapi yang paling berarti, aku selalu ingat betapa hangatnya senyummu ketika kau menolak menuruni pohon karena takut jatuh."
Bab 4: Jarak yang Menghimpit
Malam itu, Dinda kembali ke rumah kontrakan, menutup buku catatan dengan hati-hati. Ia menatap foto lama di dinding, foto keluarganya di pantai Lampung, dan foto dirinya bersama Arif di sekolah. Ada sesuatu yang menggelisahkan di dalam hatinya—jarak antara impian dan kenyataan semakin menipis.
Pak Wira masuk ke kamarnya, menaruh secangkir teh hangat di atas meja. "Kamu masih ingat, Dinda, betapa pentingnya menjaga hati," katanya, mengingatkan pada pepatah lama yang selalu diajarkan ayahnya.
Dinda mengangguk, menatap cahaya lampu yang berkelap-kelip di atas meja. Ia memutuskan untuk menulis surat kepada Arif, mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam.
Bab 5: Surat di Bawah Bintang
Malam berikutnya, Dinda menulis di bawah cahaya bintang yang bersinar di atas atap rumah. "Arif, setiap kali aku melihat pohon mangga itu, aku teringat pada senyummu yang selalu menghangatkan hati. Aku tak ingin lagi menunggu waktu yang tak pasti. Aku ingin kita melangkah bersama, menapaki jalan yang belum pernah kita lalui."
Ia menutup surat itu dengan tanda tangan berwarna biru, menandakan harapan yang masih segar. Surat itu ia kirimkan lewat aplikasi pesan, menunggu balasan yang mungkin saja menjadi titik balik dalam hidupnya.
Bab 6: Jawaban di Pagi Hari
Keesokan paginya, Dinda terbangun dengan aroma kopi yang menguar dari dapur. Di ponselnya, ada notifikasi: "Aku juga merindukanmu, Dinda. Mari kita buat masa depan di bawah pohon mangga itu."
Arif menjemput Dinda di depan rumah kontrakan, membawa tas berisi perlengkapan melukis dan buku-buku puisi. Mereka berjalan bersama ke pohon mangga, menatap cabang-cabang yang menari di angin. "Kita bisa membuka galeri kecil di sini," kata Arif, mengusulkan ide yang menggabungkan kecintaan mereka pada seni.
Dinda menatapnya, hati berdebar. "Aku suka ide itu. Kita bisa menjual lukisan, buku, dan kopi. Menggabungkan semua hal yang kita cintai."
Bab 7: Membuka Gerbang Cinta
Minggu berikutnya, mereka mempersiapkan sebuah sudut kecil di bawah pohon, menata meja kayu, menata kursi dari kayu bekas, serta menempatkan lampu hias yang berkelap-kelip. Aroma mangga segar menyatu dengan harum kopi, menciptakan atmosfer yang hangat.
Hari pembukaan tiba. Penduduk desa datang, mencicipi kopi, melihat lukisan, dan membaca puisi yang tergantung di antara ranting. Anak-anak berlari mengelilingi pohon, sementara pasangan tua duduk di bangku, mengingat masa muda mereka.
Bab 8: Cinta yang Tumbuh
Saat matahari terbenam, Dinda dan Arif duduk berdekatan, menatap langit yang berubah menjadi warna oranye kemerahan. "Aku tidak pernah menyangka pohon mangga ini menjadi tempat di mana kita menemukan kembali diri kita," ucap Arif, menggenggam tangan Dinda.
"Aku juga," jawab Dinda, mengusap rambutnya. "Cinta ini seperti buah mangga yang manis, tapi harus bersabar menunggu sampai matang."
Mereka berciuman di bawah cahaya bintang, diiringi suara riang anak-anak yang masih bermain di sekitar mereka. Di sana, di bawah pohon mangga tua, sebuah cerita cinta tumbuh, mengalir seperti sungai kecil yang tak pernah berhenti.
Epilog
Setelah beberapa tahun, galeri kecil mereka menjadi tempat berkumpul bagi para seniman, penikmat kopi, dan pecinta puisi. Pohon mangga tetap berdiri, memberikan keteduhan dan aroma yang tak pernah pudar. Dinda dan Arif terus menulis, melukis, dan menyeduh kopi, mengingatkan diri mereka bahwa cinta sejati adalah proses, bukan sekadar tujuan.
Mereka belajar bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menumbuhkan rasa, seperti buah mangga yang selalu menunggu musimnya. Dan di bawah naungan pohon itu, mereka menemukan arti kebahagiaan: sebuah kebersamaan yang sederhana, hangat, dan tak pernah lekang oleh waktu.