Cermin Retak di Balik Lobi Hotel Tua
Bagian I – Kedatangan
Kalimantang, sebuah kota pelabuhan kecil di pesisir barat Sumatera, memang tidak terkenal dengan kehebohan. Namun, pada suatu sore yang berawan, Dewi Lestari, arkeolog muda yang baru kembali dari ekspedisi di Pulau Nias, menerima telepon tak terduga. "Ada barang antik yang baru saja ditemukan di Lobi Hotel Majapahit. Kami butuh ahli seperti kamu," kata Pak Jaya, pemilik hotel yang sudah berusia satu abad. Dewi menolak dulu, mengingat jadwal kuliahnya, namun rasa ingin tahu mengalahkan keraguan. Ia mengemas tasnya, menyiapkan catatan lapangan, dan menumpang bus menuju hotel yang terletak di tepi pantai, berdekatan dengan pasar ikan.
Bagian II – Lobi yang Membisu
Hotel Majapahit memang tidak lagi sepopuler dulu. Dindingnya berwarna krem kusam, lampu gantung kristal berdebu menempel pada plafon berkarat, dan karpet lusuh menutupi lantai kayu yang berderit. Pada sudut kanan lobi, berdiri sebuah cermin besar berbingkai kayu ukir, retak di tengahnya. Retakan itu menyerupai cabang pohon yang terbagi menjadi tiga.
Pak Jaya menyambut Dewi dengan senyum lemah. "Kami menemukan ini ketika membersihkan ruang penyimpanan lama. Ada catatan di baliknya, tapi catatan itu rusak," jelasnya. Dewi menatap cermin itu, lalu melangkah mendekat. Di balik kaca, tampak bayangan ruangan yang sudah tidak ada lagi: meja-meja kayu, kursi kulit, dan sebuah buku tebal berwarna merah tua.
Bagian III – Petunjuk Pertama
Dewi mengeluarkan kertas tipis yang menempel pada bingkai cermin. Tulisan tangan berwarna hitam menggoreskan:
“Jika kau ingin menemukan apa yang tersembunyi, hitung langkahmu dari pintu utama ke cermin, lalu putar tiga kali ke kiri. Di sana, kau akan menemukan kunci pertama.”
Dewi mengangguk, mengamati lantai berkarpet yang sudah memudar. Ia menghitung langkahnya: satu, dua, tiga… enam belas langkah hingga mencapai cermin. Sesuai petunjuk, ia berputar tiga kali ke kiri, menghadap ke sudut ruangan yang berisi lemari kayu berdebu. Di dalamnya, tersembunyi sebuah kunci kuningan berukir motif ombak.
Bagian IV – Kode Kamar 207
Di balik kunci, terdapat secarik kertas lain berwarna coklat kusam:
“Kunci ini membuka pintu yang belum pernah dibuka sejak 1923. Cari nomor yang berhubungan dengan angka tiga.”
Dewi menatap papan nomor kamar di koridor. Nomor 207, 311, 423, 538. Ia teringat pada tiga dalam petunjuk. Angka yang mengandung tiga adalah 311. Ia mengeluarkan kunci, melangkah ke kamar 311. Pintu berderit ketika dibuka, mengungkap ruangan yang tampak seperti ruang kerja lama: meja tulis, lampu minyak, dan sebuah peta kecil berwarna krem yang menggambarkan pelabuhan dan jalur kapal.
Bagian V – Peta dan Lagu Kuno
Di atas peta terdapat catatan kecil:
*"Dengarkan lagu yang pernah dinyanyikan di atas kapal. Nada itu menuntun pada tempat yang tersembunyi."
Dewi menelusuri laci meja, menemukan sebuah gramofon tua dengan piringan hitam berlabel "Lagu Rasa Rindu". Ia menurunkan jarum, dan melantunkan melodi yang mengalun pelan, mengingatkannya pada lagu tradisional Minangkabau. Saat melodi mencapai bagian refrain, suara berderak di dinding sebelah, mengungkap sebuah panel kayu yang terbuka sedikit.
Bagian VI – Lorong Bawah Tanah
Dewi memasukkan tangannya ke dalam celah, menemukan sebuah tangga besi berkarat yang menurun ke ruang bawah tanah. Di ujung lorong, ada sebuah peti kayu berukir motif naga. Di sampingnya, sebuah buku harian berkulit coklat tergeletak. Dewi membuka buku itu, menemukan tulisan tangan seorang pencatat bernama Sutan Djalal yang bekerja di hotel pada tahun 1920-an.
*"28 April 1924. Malam ini, ada suara langkah kaki di ruang cermin. Aku menutupnya, tapi retakan semakin melebar. Aku menaruh kunci ini di balik peta, berharap tak ada yang menemukannya lagi. Jika kau menemukan ini, tolong jangan biarkan rahasia itu terungkap."
Bagian VII – Penyelesaian Teka‑Teki
Dewi menelusuri kembali petunjuk. Retakan pada cermin menyerupai tiga cabang; ia mengingat petunjuk pertama tentang tiga kali berputar. Ia menempatkan kunci kuningan di atas cermin, tepat di ujung retakan paling atas. Seketika, retakan bersinar, menyingkap sebuah kompartemen rahasia di balik kaca. Di dalamnya, terdapat sebuah kotak logam kecil berisi sebuah lensa kaca yang memantulkan cahaya berwarna hijau.
Lensa itu ternyata adalah kunci untuk membuka peti naga di lorong bawah tanah. Saat lensa diletakkan pada lubang kecil di tutup peti, mekanisme terkunci terbuka perlahan, mengeluarkan segel berwarna merah tua yang berisi selembar foto hitam putih.
Bagian VIII – Twist yang Tak Terduga
Foto itu menampilkan sekelompok orang berpakaian seragam militer Belanda, berdiri di depan Hotel Majapahit. Di tengah mereka, tampak seorang wanita berambut panjang dengan tanda tato pada pergelangan tangan yang sama persis dengan tanda tato pada lengan Dewi Lestari — sebuah bintang laut kecil. Dewi terkejut. Tanda itu adalah warisan keluarga yang selama ini ia kira berasal dari neneknya di Pulau Nias. Ternyata, ia adalah keturunan Sutan Djalal, yang pada masa penjajahan menyimpan sebuah harta karun milik kerajaan lokal yang disembunyikan di hotel untuk melindungi dari penjarahan.
Namun, twist sebenarnya terletak pada lensa kaca itu. Ketika Dewi menatapnya, cahaya hijau memantul dan memperlihatkan bayangan ruangan modern dengan monitor komputer, kamera keamanan, dan ruang kontrol yang ternyata tersembunyi di bawah lantai hotel. Foto itu bukan sekadar kenangan, melainkan petunjuk bahwa Hotel Majapahit kini menjadi basis operasi rahasia sebuah kelompok arkeolog independen yang menyelidiki artefak kuno untuk kepentingan politik.
Bagian IX – Penutup
Dewi menutup buku harian Sutan Djalal, menyadari bahwa ia kini terjerat dalam jaringan yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari artefak. Ia memutuskan untuk menyimpan lensa dan foto itu, sambil menyiapkan laporan kepada universitasnya. Namun, sebelum ia melangkah keluar, suara langkah kaki kembali terdengar dari lorong atas, kali ini lebih tegas. Pak Jaya muncul, menatap Dewi dengan mata yang tajam.
"Kau sudah menemukan apa yang kami cari, Dewi. Sekarang, kau harus memutuskan apakah akan membantu kami atau melaporkannya ke pihak berwenang," ucapnya.
Dewi menatap cermin retak sekali lagi, melihat bayangan dirinya yang terbelah menjadi dua — satu sisi arkeolog yang mencari kebenaran, satu lagi agen yang terlibat dalam konspirasi. Ia menghela napas dalam, lalu mengangguk pelan. Cerita berakhir di ambang pilihan, meninggalkan pembaca bertanya-tanya: siapa yang sebenarnya mengendalikan rahasia di balik cermin retak itu?