Buku Tua di Lantai Atas Gedung Pustaka
Bab 1: Penemuan Tak Terduga
Dira Pratama, seorang pustakawan muda di Gedung Pustaka Cakrawala, sedang mengatur rak buku pada sore yang lengang. Gedung itu berdiri megah di pusat kota Surabaya, dengan arsitektur art deco yang menonjolkan jendela-jendela besar dan tangga melingkar mengarah ke lantai atas yang jarang dilewati orang.
Saat memindahkan tumpukan katalog lama, ia terhuyung pada sebuah papan kayu yang terlepas. Di baliknya, terdapat sebuah lubang kecil yang mengarah ke sebuah ruangan sempit—loteng yang belum pernah dibuka sejak gedung itu direnovasi tiga puluh tahun lalu. Di tengah debu tebal, sebuah meja kayu usang menampung satu benda: sebuah buku berkulit kulit berwarna coklat tua, dengan tulisan emas yang hampir pudar: "Catatan Penjaga Waktu".
Dira mengangkat buku itu dengan hati-hati. Sampulnya terasa dingin, seolah menyimpan sesuatu yang menunggu untuk dibuka. Di sampul terdapat sebuah segel berupa gambar jam pasir terbalik, melambangkan waktu yang terhenti.
Bab 2: Rangkaian Petunjuk
Setelah menyalakan lampu gantung tua di loteng, Dira membuka halaman pertama. Teksnya ditulis dengan tangan rapi, mengisahkan seorang penjaga yang bertugas mengawasi jam besar di menara kota pada abad ke-19. Di akhir halaman, terdapat sebuah catatan kecil:
"Jika engkau menemukan ini, ikuti tiga jejak: 1) Bunga teratai di kolam, 2) Kunci berkarat di dalam buku, 3) Nada terakhir pada piano rusak."
Dira mengernyit. "Bunga teratai?" pikirnya. Ia mengingat ada sebuah kolam kecil di taman belakang gedung, yang dulu dipenuhi teratai sebelum ditutup oleh beton.
Ia melangkah turun, melewati koridor berderak, hingga sampai di Taman Sumber Harum, sebuah kebun kecil yang terletak di balik gedung. Kolam itu kini berisi air keruh, namun di tengahnya masih terlihat satu teratai yang masih berdiri, meski layu. Pada kelopak teratai terdapat sebuah cincin perak kecil yang terukir huruf "M".
Cincin itu tampak seperti kunci. Dira mengangkatnya, dan secara tak sadar menempatkannya di dalam buku yang masih terbuka. Ketika cincin bersentuhan dengan kertas, sebuah lembaran baru muncul secara otomatis, menampilkan gambar sketsa piano tua yang berada di ruang musik gedung.
Bab 3: Piano Rusak
Piano itu berada di Ruang Musik Lantai 3, sebuah ruang yang dulunya dipakai untuk konser kecil. Alat musik itu sudah lama tidak dimainkan; tutsnya berkarat, dan salah satu pedalnya patah. Di atas penutup piano terdapat sebuah label usang bertuliskan "Akhirnya Nada Terakhir".
Dira menekan beberapa tuts, berharap menemukan nada yang dimaksud. Tiba-tiba, satu tuts mengeluarkan suara yang berbeda—sebuah nada panjang yang bergema di seluruh ruangan. Nada itu bergetar pada lemari kaca di sudut, mengungkapkan sebuah panel tersembunyi.
Panel itu terbuka, memperlihatkan sebuah kotak kayu kecil berisi sebuah surat kuno. Surat itu ditulis oleh Hendrik Van Doren, seorang arsitek Belanda yang merancang Gedung Pustaka pada tahun 1895. Dalam suratnya, ia menyebutkan:
"Aku menyimpan rahasia di dalam jam besar menara, namun hanya yang mampu memecahkan tiga teka‑teki ini yang akan menemukannya. Waktu adalah satu‑satunya kunci."
Bab 4: Menara Jam Besar
Menara jam terletak di puncak gedung, di balik sebuah pintu besi berkarat. Dira menanjak ke lantai tertinggi dengan bantuan lift tua yang berderak. Di dalam menara, jam besar berdiri megah, jarum‑jarumnya masih berputar meski tidak ada tenaga listrik.
Di balik jarum jam, terdapat sebuah lubang bulat berukuran kecil. Dira mengeluarkan kunci perak yang ia temukan pada teratai, dan memasukkannya ke dalam lubang. Mekanisme berderak, dan sebuah kompartemen tersembunyi terbuka, menampung sebuah buku kecil berwarna biru tua.
Buku itu berisi satu halaman kosong, kecuali satu kalimat yang tercetak dengan tinta merah:
"Waktu yang kau pilih akan menentukan apa yang kau temukan. Pilih antara pukul 12:00 atau 00:00."
Bab 5: Pilihan Waktu
Dira kembali ke ruang kerja, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 23:45. Ia mengingat kembali tiga petunjuk: teratai, piano, dan menara. Semua mengarah pada konsep waktu. Ia memutuskan untuk menunggu hingga tepat pukul 00:00 malam.
Ketika jarum jam bergerak ke tengah malam, suara berdengung keluar dari jam besar. Sebuah laci kecil di dasar menara terbuka perlahan, mengungkapkan sebuah gulungan kulit yang berisi peta rahasia gedung.
Peta itu menunjukkan sebuah ruang tersembunyi di bawah lantai dasar perpustakaan, yang selama ini dianggap sebagai ruang penyimpanan bahan bakar lama. Pada peta, terdapat simbol segitiga terbalik yang menandai lokasi.
Bab 6: Ruang Tersembunyi
Dengan senter di tangan, Dira menuruni tangga berkarat menuju ruang bawah tanah. Udara terasa dingin dan bau lembap menguar. Di sudut paling jauh, ia menemukan sebuah pintu kayu kecil berukir segitiga terbalik.
Setelah menggeser pintu, ruang itu terbuka. Di dalam, terdapat sebuah meja kerja berdebu, tumpukan dokumen, dan sebuah kotak logam berwarna kehitaman. Kotak itu terkunci, namun di sampingnya terletak sebuah jam pasir mini yang hampir habis.
Dira menaruh jam pasir ke dalam kotak, menekan tombol kecil di sampingnya. Kotak terbuka, mengeluarkan sebuah batu kristal berkilau biru.
Bab 7: Twist yang Mengubah Segalanya
Saat Dira memegang kristal, cahaya biru menyebar, mengungkapkan dinding ruangan yang ternyata berlapis gambar-gambar lama. Salah satu gambar memperlihatkan Hendrik Van Doren sedang menandatangani sebuah kontrak dengan pemerintah kolonial pada tahun 1895. Kontrak itu berisi perintah untuk menyimpan “benda paling berharga” di gedung, untuk melindungi “kekuatan yang dapat mengendalikan waktu”.
Dira terkejut ketika menyadari bahwa benda paling berharga bukanlah kristal, melainkan buku "Catatan Penjaga Waktu" yang ia temukan di awal. Buku itu sebenarnya merupakan jurnal yang berisi rumus‑rumus fisika kuno yang dapat memanipulasi aliran waktu, ditulis oleh Hendrik yang sekaligus seorang ilmuwan.
Namun, ada satu baris terakhir yang belum terbaca karena tinta mengering:
"Jika seseorang menemukan ini, jangan gunakan kekuatan ini. Biarkan waktu mengalir sebagaimana mestinya, karena mengubahnya akan menelan dunia dalam kegelapan abadi."
Dira menatap kristal biru, kemudian menutup kembali kotak dan meletakkannya kembali di tempat semula. Ia memutuskan untuk menyembunyikan kembali semua petunjuk, menuliskan kembali catatan pada buku dengan tinta baru, dan mengunci kembali semua ruangan.
Epilog
Beberapa minggu kemudian, Dira menutup buku itu kembali ke dalam loteng, menambahkan segel baru pada papan kayu. Ia menulis satu catatan singkat di bagian belakang:
"Waktu bukan milik siapa‑siapa. Hanya yang menghormatinya yang akan selamat."
Ketika seorang penelusur sejarah bernama Rizal datang ke perpustakaan untuk meneliti arsip kolonial, ia menemukan sebuah foto lama Hendrik berdiri di depan jam besar. Di balik foto itu, terlihat bayangan samar seorang perempuan muda—mirip Dira—yang tersenyum misterius.
Apakah Dira sebenarnya penjaga waktu yang baru? Ataukah ia hanya seorang pustakawan yang kebetulan berada di tempat yang tepat? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara jam besar tetap berdetak tanpa henti, menunggu siapa‑siapa yang berani memecahkan teka‑teki berikutnya.