Horor

Ruang Sunyi di Balik Lantai Tiga Pabrik Gula

Ruang Sunyi di Balik Lantai Tiga Pabrik Gula

Sebelum matahari terbenam, langit di atas Kampung Tanjung Bidara berwarna jingga kehitaman. Angin sore menyeberang lahan pertanian, menggerakkan dedaunan kelapa yang menari pelan. Di ujung jalan berbatu, berdiri megah sebuah bangunan tua: Pabrik Gula Coklat Klasik. Bangunan itu dulu menjadi kebanggaan desa, tempat banyak orang bekerja, namun sejak kebakaran yang meluluhlantakkan dua lantai pada tahun 1998, hanya satu lantai yang masih beroperasi, sementara lantai dua dan tiga terpaksa ditutup rapat.

Ari, seorang tukang listrik berusia tiga puluh dua tahun, baru saja dipanggil kembali oleh manajer pabrik. "Ada masalah di panel distribusi lantai tiga," kata Pak Hadi lewat telepon. Ari menatap peta usang pabrik itu, menandai titik Lantai Tiga yang selama ini hanya ada dalam catatan lama. "Kita harus periksa," katanya pada dirinya, meski rasa was-was menggelitik di dada.

Saat Ari melangkah masuk, bau gula yang masih menempel di dinding menguar, bercampur bau logam berkarat. Lampu neon berkelip, menimbulkan bayangan panjang yang menari di atas lantai beton retak. Pintu besi berat berderit membuka dirinya perlahan, seakan mengundang Ari masuk ke dalam ruang yang seakan tidak pernah ada pada peta modern.

Di lantai tiga, cahaya lampu redup menembus celah-celah kecil pada atap yang bocor. Ari menyalakan senter, memperhatikan setiap rangkaian kabel yang berkelok seperti ular. Namun, di sudut ruangan, sebuah pintu kayu tua menonjol, berbeda dari dinding batu lainnya. Pintu itu berkarat, berdebu tebal, dan tampak tak pernah dibuka sejak lama.

Tanpa sadar, Ari mendengar suara berbisik lembut, seakan berasal dari balik dinding. "...kembalikan..." kata suara itu, terputus-putus, menembus keheningan. Ia menoleh, mencari sumbernya, namun tak ada apa-apa selain debu yang berterbangan. Hatinya berdebar, namun ia memaksa diri melanjutkan pekerjaan, menghubungkan kabel ke panel utama.

Saat ia menyambungkan kabel, listrik kembali menyala. Lampu neon menyala terang, mengungkapkan seluruh ruangan: sebuah ruang kecil yang tersembunyi di balik dinding, dipenuhi dengan buku-buku tua, kotak kayu, dan foto-foto hitam putih yang tampak usang.

Salah satu foto menampilkan sekelompok pekerja pabrik pada tahun 1970, dengan wajah berseri-seri, memakai seragam coklat tua. Di antara mereka, seorang pria berdiri tegak, menatap lurus ke kamera. Wajahnya tak dapat dikenali, namun ada aura yang menakutkan di balik mata yang hampa.

Ari merasakan hawa dingin menyusupi punggungnya. Ia beralih ke buku pertama, membuka halaman yang berdebu. Teksnya hampir tak terbaca, namun kata-kata "Jangan buka pintu ketiga" terbaca jelas, seakan ditulis dengan tinta hitam pekat. Di sampingnya, sebuah surat berwarna krem berisi catatan singkat: "Jika kau mendengar bisikan, tinggalkan tempat ini sebelum malam menutup tirainya."

Suara bisikan kembali, kini lebih jelas. "...kembalikan...kembalikan..." katanya. Ari menoleh ke arah pintu kayu, yang kini tampak terbuka setengah. Di baliknya, cahaya redup memancar, memperlihatkan ruang sunyi yang seakan tidak pernah ada. Di tengah ruangan, terdapat sebuah jam antik berdiri di atas meja kayu, jarum jam berputar mundur.

Iklan

Ari mendekat, meraba jam itu. Saat jarum menukik ke angka tiga, suara dentang bergaung, menimbulkan getaran pada lantai. Tiba-tiba, lampu neon padam, meninggalkan kegelapan total. Hanya senter Ari yang menyinari ruangan, menyorot bayangan jam yang berputar.

"Ari..." bisik suara itu, kini jelas terdengar dalam kepalanya. "Kembalikan apa yang terlepas..."

Ia teringat pada kisah lama tentang pencuri gula yang pernah mencuri sekotak gula dari pabrik pada tahun 1952. Pencuri itu ternyata adalah penjaga jam yang bertugas menjaga waktu produksi. Saat pencuri itu melarikan diri, ia menumpahkan sekotak gula ke dalam mesin, menyebabkan jam utama rusak dan berhenti pada pukul tiga. Legenda mengatakan, jiwa penjaga itu terperangkap dalam jam, menunggu seseorang mengembalikan "kekosongan" yang ditinggalkannya.

Ari menatap jam, lalu menengok ke arah kotak kayu. Di dalamnya terdapat sekotak gula kuning keemasan, masih mengkilap meski terbungkus kertas lusuh. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat kotak itu, menempatkannya di atas meja, tepat di bawah jarum jam.

Saat gula itu menyentuh permukaan, jam berdentang lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam. Suara bisikan berubah menjadi nyanyian melankolis, seakan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Ari. Aku dapat kembali ke alur waktu," kata suara itu, lalu menghilang bersama cahaya yang memancar dari jam.

Lampu neon kembali menyala, menyingkapkan ruangan yang kini bersih, tanpa debu. Pintu kayu menutup rapat, seakan tak pernah terbuka. Ari mengangkat kotak gula, menaruhnya kembali ke tempat semula di gudang pabrik, memastikan tidak ada lagi yang hilang.

Saat ia turun ke lantai dua, ia melihat Pak Hadi menunggu di luar, tampak lega. "Bagaimana, Ari?" tanya Pak Hadi. Ari mengangguk, namun dalam hatinya ia tahu, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Malam itu, ketika bulan purnama menggantung tinggi, Ari mendengar lagi suara berbisik, namun kali ini jauh di luar pabrik, melintasi ladang tebu, mengingatkannya pada ruang sunyi yang tersembunyi di balik lantai tiga. Ia menutup mata, menghela napas, dan berjanji pada dirinya sendiri: tidak ada lagi yang akan terlepas, tidak ada lagi yang akan kembali.

Ruang Sunyi di Balik Lantai Tiga Pabrik Gula menutup kisahnya dengan keheningan yang menegangkan, mengajarkan bahwa kadang-kadang, rahasia masa lalu hanya menunggu seseorang yang berani mendengar bisikannya.

Iklan