Horor

Rosa dan Lantai 13 yang Berbisik

Rosa menurunkan diri ke dalam lift usang yang berderit, menurunkan tombol ke lantai 13 dengan jari gemetar. Apartemen ini baru saja ia sewa, sebuah unit kecil di gedung tua yang dulu merupakan rumah bagi para pekerja pabrik. Ia tidak pernah menyangka, lantai 13 akan menjadi tempat pertama ia merasakan getaran aneh yang melampaui sekadar suara angin.

Saat pintu lift terbuka, cahaya lampu neon yang berkedip memberi sinyal bahwa lorong itu masih berfungsi, meski lampu utama di atas terkesan lemah. Dinding dindingnya terbuat dari batu bata yang mulai mengelupas, menampilkan pola-pola retakan yang menyerupai jaringan saraf. Rosa menginjakkan kakinya, dan seketika, seolah-olah lantai itu mengeluarkan desahan lembut, seperti napas yang terhenti.

"Selamat datang," bisik suara samar yang tidak dapat ia identifikasi dari mana asalnya. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung ke dalam pikirannya. Rosa menoleh, mencari sumbernya, namun hanya menemukan dinding yang hening. Ia menoleh kembali ke pintu masuk, menutup pintu itu dengan hati-hati. Di dalam apartemen, suara itu kembali terdengar, lebih jelas, seakan menunggu.

Rosa menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Cahaya redup menyoroti sebuah lemari kayu tua yang tampak tak terpakai selama bertahun-tahun. Di dalamnya, terdapat sebuah buku harian berkulit coklat tua, tergeletak di antara pakaian kotor dan peralatan dapur yang berdebu. Judulnya terukir, "Catatan Malam". Tertarik, Rosa membuka buku itu, dan seketika, udara di ruangan terasa semakin tebal.

"Hari ini, suara itu kembali," tertulis pada halaman pertama, dengan tulisan yang berwarna kehitaman seakan menandakan tinta yang mengering. "Aku tidak tahu dari mana asalnya, namun ia selalu datang pada malam hari, saat hujan turun dan lampu jalan berkedip. Aku berusaha mengabaikannya, namun semakin lama, bisikan itu menjadi lebih keras, menuntunku ke lantai 13."

Rosa mengernyitkan alis, menatap catatan itu sejenak, lalu menutup buku dan menaruhnya kembali. Ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Lantai 13, yang biasanya dianggap tabu, tampaknya menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan struktural.

Malam itu, hujan turun deras, mengalir di jendela kecil yang meneteskan tetesan air ke lantai. Rosa duduk di sofa, menatap lampu yang berkelap-kelip. Tiba-tiba, bisikan kembali terdengar, lebih jelas, mengalir dari dinding. "Kamu tidak seharusnya di sini," katanya. Rosa menahan napas, mencoba menelan ketakutan yang menggelitik tenggorokannya.

Ia memutuskan untuk menyelidiki. Mengikuti suara, Rosa berjalan perlahan ke arah dinding paling ujung ruangan, di mana terdapat sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik tirai berdebu. Pintu itu berkarat, namun masih bisa dibuka. Saat ia menggerakkan engselnya, bau lembap menguar, mengingatkannya pada ruang bawah tanah yang pernah ia lihat di film horor.

Di dalam, sebuah ruangan sempit dipenuhi oleh rak-rak kayu yang dipenuhi dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna gelap. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu kecil dengan sebuah jam pasir yang berhenti pada setengah jalan. Di sampingnya, sebuah cermin retak menatap kembali Rosa, memantulkan bayangan dirinya yang tampak lebih pucat.

Iklan

"Kenapa kau menutupnya?" bisik suara itu lagi, kali ini terdengar lebih jelas, seakan berasal dari cermin itu sendiri. Rosa menatap cermin, dan pada permukaannya, ia melihat bayangan seorang wanita tua dengan mata merah menyala, menatapnya dengan tatapan kosong.

Rosa mengangkat tangannya, menyentuh permukaan kaca. Sentuhan itu memicu kilatan cahaya, dan sejenak ia melihat kilas balik masa lampau: seorang wanita yang sama duduk di kursi kayu, menulis dalam buku harian yang sama.

"Aku menulis untuk mengingat," suara wanita itu berbisik, "tapi aku lupa bahwa kata-kata ini menahan sesuatu yang tidak seharusnya terikat."

Rosa menyadari bahwa buku harian itu bukan sekadar catatan, melainkan penjara bagi suara-suara yang terperangkap dalam dinding. Setiap malam, bisikan itu berusaha melarikan diri, mencari tubuh yang dapat mendengarnya.

Dengan tekad, Rosa mengangkat buku harian itu kembali, membukanya pada halaman terakhir. Di sana, tulisan terakhir mengakhiri kalimatnya: "Jika kau menemukan ini, lepaskan kami." Tiba-tiba, suara itu menghilang, digantikan oleh keheningan yang menakutkan.

Rosa menutup buku dan menaruhnya di atas meja. Ia merasakan udara menjadi lebih ringan, seolah beban yang menahan ruangan telah terangkat. Namun, ia belum selesai. Ia harus memastikan tidak ada lagi yang terperangkap di sana.

Dengan hati-hati, ia menyalakan lilin, menempatkannya di atas jam pasir yang berhenti. Api kecil itu memantulkan cahaya ke cermin retak, menyoroti retakan yang tampak seperti jalur-jalur kecil. Pada setiap retakan, muncul kilatan cahaya putih, seolah-olah jiwa-jiwa yang terkurung perlahan-lahan terlepas.

Saat cahaya menghilang, cermin kembali menampilkan bayangan Rosa yang normal, tanpa jejak wanita tua. Lantai 13 kini terasa lebih sunyi, tidak lagi berbisik, tetapi hanya bergetar lembut, seperti napas alam yang tenang.

Rosa meninggalkan apartemen itu keesokan paginya, membawa buku harian sebagai kenang-kenangan. Ia tahu, di balik setiap dinding, selalu ada cerita yang menunggu untuk terungkap. Dan lantai 13, meski masih dianggap tabu, kini menjadi saksi bisu bahwa keberanian dapat mengusir bisikan yang menakutkan.

Iklan