Horor

Rosa dan Lantai 13 yang Berbisik

Rosa menutup pintu apartemen 13‑C dengan napas yang hampir menahan. Udara di lorong sempit terasa lebih dingin daripada biasanya, seakan ada yang menunggu di balik setiap sudut gelap. Sebuah desahan lembut terdengar, bukan dari ventilasi atau mesin pendingin, melainkan seakan lantai itu sendiri menggumamkan sesuatu yang tak terucapkan.

Dia menyalakan lampu gantung yang berpendar kuning redup, cahaya yang menari‑tari di antara dinding bercat pudar. Dinding-dinding itu menyimpan bekas goresan‑goresan samar, seperti jejak kaki yang sudah lama hilang. Sebuah suara berderak terdengar dari lantai bawah, memanggilnya dengan nada yang semakin jelas. "Rosa..." bisik suara itu, mengalun lembut namun menegangkan, seakan ada seseorang yang menunggu di sana.

Rosa menapaki koridor yang berliku, langkahnya terhenti di depan pintu tua yang mengarah ke ruang penyimpanan. Pintu itu terbuat dari kayu gelap, dengan engsel berkarat yang berderit setiap kali angin kecil menyentuhnya. Di atas pintu, sebuah label usang bertuliskan "Lantai 13" berwarna pudar, hampir tak terbaca. Tanpa ragu, Rosa menolak rasa takutnya dan memutar gagang pintu. Saat pintu terbuka, bau lembap dan tanah basah menyeruak, mengisi hidungnya dengan aroma nostalgia yang aneh.

Ruangan itu dipenuhi kotak‑kotak kayu yang berdebu, masing‑masing berisi barang‑barang lama yang tampaknya tak pernah dibuka selama bertahun‑tahun. Di tengah ruangan, sebuah cermin besar berdiri, berbingkai kayu hitam yang retak‑retak. Cermin itu memantulkan cahaya lampu gantung, menciptakan bayangan gelap yang menari di dinding. Namun, ketika Rosa menatap ke dalam cermin, dia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di sana.

Di balik pantulan, seolah‑olah ada sebuah ruangan lain—ruangan yang lebih gelap, dipenuhi dengan cahaya lilin yang berkelap‑kelip. Di sudut ruangan itu, seorang wanita berdiri dengan gaun putih kusam, wajahnya tertutup kabut tipis. Wanita itu menoleh perlahan, menatap langsung ke mata Rosa. "Aku menunggu," bisiknya, suara itu seakan berasal dari seluruh ruangan sekaligus.

Rosa terkejut, namun rasa ingin tahunya lebih kuat. Ia melangkah mendekat, namun setiap langkahnya terasa semakin berat, seolah lantai di bawahnya menahan setiap gerakan. Tiba‑tiba, lampu gantung berkedip, dan cahaya menjadi redup. Bayangan wanita itu semakin jelas, menampakkan detail pakaian yang sudah lusuh dan mata yang bersinar merah.

"Siapa kamu?" tanya Rosa dengan suara gemetar. Wanita itu tidak menjawab, melainkan mengangkat satu tangan, menunjuk ke arah sebuah lemari kayu yang terletak di pojok ruangan. Lemari itu tampak biasa saja, namun pada pintu depannya terukir sebuah simbol aneh—seperti lingkaran dengan tiga titik di dalamnya.

Rosa meraih gagang lemari, membuka pintu perlahan. Di dalamnya, terletak sebuah buku tua berkulit hitam, dengan halaman‑halaman yang tampak rapuh. Tulisan pada sampulnya hampir tak terbaca, hanya terukir "Catatan Lantai 13". Saat ia membuka halaman pertama, seketika ruangan di sekitarnya berubah. Suara berdesir, seperti bisikan angin yang mengalir melalui celah‑celah sempit, mengisi telinga Rosa.

"Setiap lantai memiliki suaranya," catatan itu berbunyi, "Dan lantai 13… memiliki bisikan yang menuntun mereka yang mendengarnya ke dalam kegelapan mereka sendiri."

Rosa menatap halaman demi halaman, menemukan cerita‑cerita tentang penghuni‑penghuni yang pernah tinggal di apartemen itu. Mereka semua menghilang secara misterius, tanpa jejak, pada malam‑malam tertentu. Semua catatan berakhir dengan satu kalimat yang sama: "Jika kau mendengar bisikan, jangan pernah menuruti."

Iklan

Namun, bisikan itu semakin keras. "Rosa… datanglah," seru suara itu, kini terdengar dari semua arah, menggema di dinding, lantai, bahkan di dalam kepalanya. Rosa merasa seolah‑olah setiap sel tubuhnya dipenuhi getaran aneh. Ia menutup buku itu, namun suara tidak berhenti. Sebaliknya, suara itu berubah menjadi melodi yang menenangkan namun menakutkan, seolah‑olah mengajak Rosa menari dalam kegelapan.

Tiba‑tiba, lampu gantung padam sepenuhnya. Kegelapan menelan ruangan, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang muncul di dalam cermin. Wanita putih itu muncul kembali, kali ini lebih dekat, menatap Rosa dengan mata yang bersinar seperti bara. "Aku adalah bagian dari lantai ini," katanya, "Aku adalah suara yang tak pernah berhenti, menunggu seseorang yang berani mendengarkan."

Rosa merasa tubuhnya melayang, seakan terlepas dari dunia nyata. Ia melihat sekilas bayangan-bayangan masa lalu—seorang pria tua yang menunggu di koridor, seorang anak kecil yang berlari mengelilingi taman, semua terperangkap dalam ruang yang sama. Semua itu adalah bagian dari lantai 13, terperangkap dalam siklus yang tak berujung.

"Kau dapat keluar," kata wanita itu, "Jika kau mengerti suara lantai, bukan menakutinya."

Rosa mengingat kembali semua catatan yang ia baca. Ia menutup mata, memusatkan pendengaran pada bisikan yang kini terdengar seperti alunan musik lembut. Ia merasakan ritme yang teratur, seakan‑olah lantai itu bernyanyi. Dengan perlahan, ia mengulangi nada‑nada itu, menyesuaikan napasnya dengan irama lantai.

Secara perlahan, cahaya kembali menyinari ruangan. Lampu gantung menyala kembali, namun tidak lagi berkelip. Cermin retak menampilkan bayangan yang berbeda—bukan lagi wanita putih, melainkan sebuah pintu terbuka yang mengarah ke lorong terang. Rosa menatap ke luar, melihat dunia di luar apartemen 13‑C, penuh cahaya pagi yang menembus jendela.

Dengan hati yang berdebar, Rosa melangkah keluar dari ruangan penyimpanan, menuruni tangga yang kini terasa lebih ringan. Setiap langkahnya terdengar seperti dentuman kecil, namun tidak ada lagi bisikan yang mengganggu. Di lorong utama, ia melihat pintu apartemen lain yang terbuka, mengundang penghuni baru.

Saat ia menatap kembali ke pintu Lantai 13, ia melihat sebuah catatan kecil tergeletak di atas lantai. Tulisannya: "Terima kasih, Rosa, karena kau mendengarkan."

Rosa tersenyum, menutup pintu itu perlahan, dan melangkah keluar dari gedung yang dulu menakutkan. Di luar, udara pagi menyapa dengan hangat, menghapus semua rasa takut yang pernah menghantuinya. Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa lantai 13 tidak pernah benar‑benar mati—ia hanya menunggu pendengar berikutnya.

Iklan