Raden dan Lantunan Sunyi di Balik Dinding Tembok Usang
Bab 1: Kedatangan di Rumah Tua
Raden Dwi Prasetyo, seorang penulis lepas berusia tiga puluh dua tahun, baru saja menandatangani kontrak kerja jarak jauh dengan sebuah perusahaan media di Surabaya. Karena pekerjaan barunya menuntutnya tinggal dekat dengan pusat kota, ia memutuskan menyewa sebuah kamar di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir jalan utama Kelurahan Sumber Waras, sebuah daerah pinggiran yang masih menampakkan nuansa desa.
Rumah itu berdiri di antara dua deretan warung kopi dan kios sayur, menampilkan dinding bata merah yang mulai retak dan jendela kayu yang berderak setiap kali angin malam menyusup. Pemilik rumah, seorang wanita paruh baya bernama Ny. Sari, menyambutnya dengan senyum lemah namun ramah. "Kamar di lantai dua, pak. Pagi nanti listrik masih belum stabil, tapi nanti sore sudah normal," ujarnya sambil menyerahkan kunci.
Raden memasuki kamar kecil yang berukuran tiga meter kali empat meter, lengkap dengan lemari kayu tua, meja belajar, dan satu jendela kecil yang menghadap ke gang sempit. Dinding di sebelah kanan kamar tampak lebih gelap, seolah menelan cahaya. Raden menaruh tasnya, menyalakan lampu meja, dan menatap keluar lewat jendela. Jalanan yang berkelok itu dipenuhi lampu jalan redup, menimbulkan bayangan panjang yang menari di aspal.
Bab 2: Malam Pertama
Saat malam tiba, angin laut yang datang dari arah barat menebar aroma asin ke dalam gang. Raden menyiapkan laptopnya, menyalakan lampu meja, dan mulai menulis. Namun, tak lama setelah ia menekan tombol spasi, sebuah suara melodi samar terdengar dari dinding sebelah kanan. Suara itu seperti alunan piano yang teredam, mengalun lembut, seakan seseorang sedang memainkan notasi sederhana dengan jarum-jarum halus.
Raden menoleh, namun tidak ada apa-apa. Dinding tetap diam, hanya memantulkan cahaya lampu. "Mungkin itu suara tetangga di atas," gumamnya, mencoba menenangkan diri. Ia menutup laptop, mematikan lampu, dan berbaring di tempat tidur. Namun, melodi itu kembali, lebih jelas, seolah-olah ada seseorang yang duduk di balik dinding, memainkan tuts-tuts piano yang tak pernah ada.
Detak jantungnya mulai berirama bersama alunan musik. Raden menutup matanya, berusaha mengabaikannya, namun melodi itu semakin menembus pikirannya. Ia terbangun pada pukul tiga dini hari, menatap ke arah dinding yang kini tampak lebih gelap. Di sudutnya, terdapat sebuah retakan kecil yang memancarkan cahaya samar, seperti kilau logam.
Bab 3: Penyelidikan
Keesokan paginya, Raden memutuskan untuk menanyakan hal tersebut kepada Ny. Sari. "Bu, tadi malam ada suara musik dari dinding kamar saya," katanya pelan. Ny. Sari menatapnya dengan mata yang tampak menahan sesuatu. "Itu... mungkin suara dari masa lalu rumah ini," jawabnya berbisik. "Ada cerita tentang seorang pianis yang tinggal di sini pada tahun 1960-an, tapi tiba-tiba menghilang. Sejak saat itu, orang-orang kadang mendengar alunan piano di malam hari."
Raden merasa penasaran. Ia menelusuri internet, mencari arsip tentang rumah itu. Tidak banyak yang ditemukan, kecuali satu artikel lama di koran lokal yang menyebutkan nama Slamet Hartono, seorang pianis berbakat yang pernah mengajar musik di sebuah sekolah musik daerah. Pada tahun 1968, ia tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah menolak melanjutkan karir di kota besar.
Slamet dikenal sebagai pribadi yang pendiam, namun sangat terobsesi dengan sebuah piano antik berukir kayu hitam yang ia sebut "Hantu Hitam". Piano itu konon dibeli dari seorang pedagang barang antik yang tidak mau disebut namanya. Setelah penghilangan Slamet, piano itu tidak pernah ditemukan.
Raden kembali ke kamar, menatap retakan di dinding. Ia menyentuhnya perlahan, merasakan dingin yang menyebar ke tangannya. Tiba-tiba, retakan itu mengeluarkan suara berdengung lembut, lalu terbuka sedikit, memperlihatkan ruang sempit berisi debu dan serpihan kayu. Di dalamnya, tergeletak sepotong papan kayu berukir, menyerupai potongan piano yang hilang.
Bab 4: Suara yang Menggoda
Malam itu, Raden memutuskan untuk tidak tidur. Ia menyalakan senter, menelusuri ruang kecil di balik dinding. Pada sudut paling dalam, ia menemukan sebuah kotak musik berwarna tembaga yang berkarat. Ketika ia membuka penutupnya, mekanisme kecil berderak, mengeluarkan alunan melodi yang sama dengan yang ia dengar sebelumnya. Namun, kali ini, melodi itu diiringi dengan suara bisikan samar yang tak dapat dipahami.
"...kembali... piano..." bisik suara itu, seolah-olah memanggil sesuatu. Raden menutup kotak musik dengan cepat, merasakan getaran aneh pada tangannya. Ia menaruh kotak itu kembali ke dalam retakan, menutupnya rapat-rapat.
Saat ia kembali ke tempat tidur, suara piano kembali muncul, lebih jelas, seakan ada seorang pianis yang duduk di sampingnya, menekan tuts demi tuts dengan gerakan yang halus namun penuh emosi. Raden menutup matanya, membiarkan diri terhanyut dalam melodi itu. Tanpa sadar, ia mulai mengigau, mengucapkan kata-kata yang tidak dikenalnya.
Bab 5: Jejak Masa Lalu
Keesokan harinya, Raden memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan daerah. Di arsip lama, ia menemukan foto hitam-putih seorang pria muda dengan pakaian formal, duduk di depan piano antik berukir. Di bawahnya tertulis: Slamah, Pianis – 1965. Pada sisi lain foto, terdapat catatan kecil: “Jangan pernah tinggalkan piano di ruang kosong, atau suara akan kembali.”
Raden kembali ke rumah, menemukan bahwa retakan di dungan kini semakin lebar. Di dalamnya, terlihat serpihan kayu yang menyerupai bagian-bagian piano, serta sebuah kunci kuno yang berkilau. Ia mengambil kunci itu, merasakan sensasi aneh ketika menyentuhnya, seakan ada energi yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Bab 6: Konfrontasi
Malam berikutnya, Raden menyiapkan diri. Ia menyalakan semua lampu, menutup jendela, dan menempatkan kotak musik di atas meja. Ketika jam menunjukkan pukul dua belas lewat, alunan piano kembali muncul, kini disertai suara langkah kaki di lantai atas, meskipun tidak ada orang di sana.
Raden memegang kunci kuno, melangkah perlahan menuju dinding. Ia menancapkan kunci ke dalam retakan, memutar perlahan. Sebuah suara berderak, lalu dinding terbuka sepenuhnya, memperlihatkan ruangan kecil yang berisi piano antik berukir hitam, bersinar dalam cahaya remang. Di atas piano, terdapat sebuah lembaran catatan berwarna kuning pudar: "Aku menunggu, biarkan musik mengalir, agar jiwa ini terlepas."
Saat ia menyentuh tuts pertama, alunan musik menggelegak, mengisi seluruh rumah. Namun, alih-alih menakutkan, musik itu terasa menenangkan, seperti menghapus beban yang selama ini menggelisahkan. Dari dalam piano, muncul bayangan samar seorang pria dengan rambut hitam, mengenakan jas klasik. Bayangan itu menatap Raden dengan mata kosong.
"Aku Slamet," bisik bayangan itu, suaranya bergema dalam ruangan. "Aku terperangkap dalam piano ini ketika aku menolak meninggalkan musikku. Setiap kali ada yang menyentuhnya, aku mencoba memanggil mereka, berharap seseorang akan mengerti dan membebaskanku."
Raden terdiam, merasakan kehangatan aneh yang mengalir. Ia menutup mata, memikirkan pilihan yang ada. Membiarkan piano tetap terkurung berarti Slamet akan terus terperangkap; mengeluarkannya mungkin akan mengakibatkan sesuatu yang tidak diharapkan.
Bab 7: Penutup
Raden memutuskan untuk mengembalikan piano ke tempat asalnya—ke dalam tanah, menutupi dengan tanah dan batu, agar melodi itu tidak lagi mengganggu dunia hidup. Ia mengangkat piano dengan susah payah, menurunkannya ke dalam lubang yang digali di halaman belakang rumah. Saat ia menutup tanah, alunan musik perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang menenangkan.
Saat pagi tiba, Ny. Sari menurunkan sapu, menatap Raden yang duduk lelah di teras. "Terima kasih, pak. Rumah ini terasa lebih ringan," ucapnya. Raden tersenyum lelah, menatap langit yang mulai cerah, merasakan angin pagi membawa aroma tanah basah.
Ia menutup laptop, menatap kembali ke rumah tua yang kini sunyi. Dalam hatinya, ia tahu bahwa beberapa rahasia memang lebih baik dibiarkan terpendam, namun kadang suara lama yang memanggil dapat menjadi jembatan untuk menuntaskan sesuatu yang belum selesai.
—
Epilog
Beberapa bulan kemudian, Raden kembali ke kota, menulis cerita tentang pengalaman itu. Ia memberi judul "Lantunan Sunyi di Balik Dinding Tembok Usang" dan mengirimkannya ke sebuah majalah horor. Cerita itu mendapat pujian, namun tak ada yang tahu bahwa melodi itu masih bergema di antara dinding-dinding rumah tua, menunggu pendengar berikutnya yang berani mendengarkan.