Malam Sunyi di Rumah Kontrakan Tepi Pasar
Malam Sunyi di Rumah Kontrakan Tepi Pasar
Dinda baru saja pindah ke sebuah rumah kontrakan dua lantai di gang sempit dekat pasar tradisional Kota Batu. Bangunan tua berwarna krem itu sudah berusia puluhan tahun, namun masih terjaga oleh pemiliknya, Pak Hadi, seorang pria berumur empat puluh delapan yang selalu tersenyum ramah. Dinda, mahasiswi jurusan arsitektur dari Surabaya, memilih tempat itu karena lokasinya strategis dan sewa yang terjangkau.
Malam pertama Dinda menghabiskan waktu menata barang-barangnya. Lampu gantung antik yang tergantung di ruang tamu berkelip redup, menambah kesan vintage pada interior yang dipenuhi perabot kayu jati. Di sudut dapur, ada lemari tua berisi peralatan masak berkarat, sisa-sisa masa lalu yang belum tersingkir. Saat jam menunjukkan pukul dua belas lewat, Dinda mematikan semua lampu kecuali satu lampu meja kecil yang menyorot buku catatannya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar mandi. Dinda menoleh, namun tidak ada siapa‑siapa. Ketukan itu berulang, lebih teratur, seolah ada sesuatu yang menunggu di balik pintu. Tanpa sadar, napasnya menjadi cepat. Ia mengintip celah pintu, hanya melihat bayangan hitam yang menari-nari di dinding.
"Siapa di sana?" tanya Dinda dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban, hanya suara gemerisik air mengalir yang terdengar dari pipa. Ketukan berhenti, digantikan oleh suara desahan angin yang masuk lewat celah jendela yang hampir tertutup.
Penasaran, Dinda membuka pintu kamar mandi. Ruangan itu gelap pekat, hanya cahaya lampu kamar yang menembus celah kecil. Di dinding, terdapat sebuah panel kayu tersembunyi yang tampak berbeda dari panel lain. Panel itu tampak lebih tua, dengan ukiran samar yang menyerupai pola anyaman bambu. Dinda meraba panel itu, merasakan suhu yang lebih dingin daripada sekitarnya.
Tanpa berpikir panjang, Dinda menarik panel itu. Terdengar suara berderit, lalu panel terbuka memperlihatkan sebuah lorong sempit berlumut. Lorong itu berkelok, seakan menelusuri ruang di balik dinding rumah. Di ujung lorong, cahaya temaram muncul, memperlihatkan sebuah ruangan kecil yang dipenuhi rak kayu penuh buku usang dan sebuah piano tua yang berdebu.
Dinda melangkah masuk, merasakan angin sejuk menyapu wajahnya. Di atas piano, terletak sebuah buku harian kulit berwarna coklat tua, terbuka pada halaman terakhir. Tulisan tinta hitamnya hampir pudar: "Setiap malam, suara ketukan datang dari ruang ini. Aku tidak tahu apa yang menunggu, tapi aku rasa ia menunggu aku kembali..."
Dinda terdiam. Ia menyadari bahwa buku itu milik pemilik rumah sebelumnya, seorang perempuan bernama Sari yang menghilang secara misterius pada tahun 1972. Legenda setempat menyebut Sari pernah menulis sebuah puisi tentang "suara yang menunggu di balik dinding". Dinda mengingat cerita-cerita warga sekitar yang selalu menghindari rumah itu ketika lampu jalan mati.
Saat Dinda menutup buku, terdengar lagi ketukan—kali ini lebih keras, langsung dari dinding belakang piano. Dinda menoleh, melihat bayangan panjang yang meluncur di lantai kayu. Bayangan itu tidak berwujud manusia, melainkan seolah-olah terbuat dari kabut gelap yang berdenyut. Bayangan itu mengalir menuruni tangga, menghilang di pintu belakang.
Dinda bergegas kembali ke kamar, menyalakan semua lampu. Namun, lampu di lorong tetap berkedip, dan suara ketukan kembali terdengar, kali ini dari setiap sudut ruangan: di dinding, di langit-langit, bahkan di lantai. Suara itu tidak bersifat mengancam, melainkan ritmis, seolah memanggil seseorang untuk menari bersama.
Dia memutuskan untuk menelusuri kembali lorong tersembunyi. Setiap langkahnya terasa menekan, seakan lantai menyesuaikan berat tubuhnya. Di ujung lorong, terdapat sebuah lemari besi berkarat. Di dalamnya, tersembunyi sebuah kotak musik kayu dengan ukiran naga mengelilingi tepinya. Dinda memutar tuasnya, dan melodi lembut mengalun, mengisi ruangan dengan nada yang menenangkan.
Melodi itu memicu ingatan dalam benaknya—sebuah lagu lullaby yang pernah dinyanyikan ibunya ketika Dinda masih kecil. Air mata mengalir, namun rasa takut perlahan menghilang. Ia menyadari bahwa suara ketukan itu bukanlah ancaman, melainkan panggilan untuk mengingat dan melepaskan.
Tiba-tiba, lampu di luar lorong padam. Kegelapan menyelimuti seluruh rumah kontrakan. Suara ketukan berhenti, digantikan oleh keheningan yang menakutkan. Dinda menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.
Saat cahaya lampu darurat kembali menyala, Dinda menemukan bahwa panel kayu yang tadi ia buka kini kembali tertutup rapat, seolah tidak pernah terbuka. Di atas meja, buku harian Sari masih terbuka pada halaman yang sama, namun kini terdapat tambahan satu baris tulisan: "Terima kasih, Dinda. Aku bisa beristirahat kini. Suara ketukan hanyalah jembatan antara yang hidup dan yang telah pergi."
Pak Hadi masuk ke ruangan dengan langkah tenang. "Sudah selesai?" tanyanya. Dinda mengangguk, masih memegang buku harian itu. "Ada apa di sini, Pak?" ia bertanya, mencoba menahan rasa ingin tahu.
Pak Hadi tersenyum tipis. "Rumah ini memang memiliki cerita lama. Setiap penghuni baru biasanya merasakan sesuatu. Tapi jangan takut, itu hanya bagian dari rumah yang ingin didengar. Selamat datang di rumah kontrakan ini, Dinda."
Dinda menatap kembali ke arah pintu kamar mandi, kini kembali tampak biasa. Ia menyadari bahwa rumah itu bukanlah tempat yang menakutkan, melainkan tempat yang menyimpan kenangan yang belum selesai. Dan malam itu, ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, mengembalikan suara yang dulu terdiam.
Sejak saat itu, Dinda tidak lagi takut pada ketukan malam. Ia menunggu dengan sabar, siap mendengarkan setiap nada yang datang, mengerti bahwa dalam keheningan, selalu ada cerita yang menunggu untuk diceritakan kembali.