Malam Sunyi di Puncak Menara Listrik
Malam Sunyi di Puncak Menara Listrik
Petani listrik bernama Kirana baru saja dipindahkan ke pos penjagaan menara listrik di Desa Banyuputih, sebuah pemukiman kecil di lereng gunung berapi yang jarang tersentuh cahaya kota. Menara setinggi 35 meter itu berdiri kokoh, melingkupi hutan bambu yang berdesir di malam hari. Tugasnya sederhana: memeriksa sambungan kabel, mengganti lampu indikator, dan melaporkan gangguan.
Pada malam pertama, kabut menebal seperti selimut putih. Angin berhembus pelan, menyingkap suara gemerisik dedaunan. Kirana menyalakan senter, menatap kabel tembaga berkilau di bawah cahaya lampu darurat. Tiba-tiba, ia mendengar sesuatu yang tak dapat dijelaskan—sebuah bisikan lembut, hampir tak terdengar, seolah datang dari sela-sela kabel.
"...kembalilah..." kata suara itu, namun suaranya tidak jelas apakah itu bahasa manusia atau desahan angin. Kirana menahan napas, berusaha menelusuri arah suara. Ia menuruni tangga logam ke ruang mesin, di mana panel kontrol berderak pelan. Di sudut ruangan, sebuah kotak kayu tua tergeletak, tertutup debu dan sarang laba-laba.
Kirana mengangkat kotak itu, dan sebuah bau tanah basah menguar. Di dalamnya terdapat sebuah jam pasir berukir motif batik, pasirnya berwarna merah gelap. Ketika ia memutar jam pasir, pasir itu bergerak perlahan, mengeluarkan bunyi berderak yang menyerupai detak jantung.
"Jangan ganggu tidur mereka," bisik suara itu kembali, lebih jelas kali ini. Kirana merasakan suhu ruangan menurun drastis; napasnya membeku. Ia menoleh ke jendela kecil, melihat bayangan hitam melintas di antara pepohonan, seolah ada sesuatu yang mengintai.
Tanpa sadar, Kirana menatap jam pasir itu lagi. Pasir yang mengalir semakin cepat, dan cahaya di menara mulai berkedip. Lampu-lampu indikator berkelip-kelip, menampilkan pola yang tak biasa: titik-titik berurutan menyerupai huruf "S".
Kirana mengingat cerita neneknya tentang Sang Penjaga Senja, makhluk yang menghuni tempat tinggi, menunggu orang yang mengganggu keseimbangan alam. "Jika kau mengganggu, kau akan menanggung sunyi yang menyesakkan," kata neneknya dulu.
Dengan gemetar, Kirana menutup jam pasir dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. Ia memutuskan untuk menyalakan semua lampu sekaligus, berharap cahaya dapat menaklukkan kegelapan. Namun, setiap lampu yang menyala memunculkan bayangan panjang di dinding, menari seperti siluet manusia tanpa wajah.
Saat jam menunjukkan tengah malam, semua lampu tiba‑tiba padam. Kegelapan menelan menara, dan suara bisikan berubah menjadi riuh rendah, seolah ribuan suara bersatu mengeluh. "Kembalilah..." mereka berteriak serentak, menembus telinga Kirana.
Dengan cepat, Kirana meraih ponsel, menyalakan lampu senter, dan berlari turun menuruni tangga. Ia melangkah melewati lorong-lorong sempit, menembus kabut yang kini terasa lebih padat, seperti kabut yang menelan suara.
Di luar, awan hitam menutupi bulan, menambah rasa takut. Kirana sampai di pintu gerbang menara, membuka pintu dengan tergesa‑gesa, dan melangkah ke jalan setapak menuju desa. Sepanjang perjalanan, bisikan masih mengikutinya, namun kini terdengar lebih jauh, seperti gema yang perlahan menghilang.
Sesampainya di rumah, ia menutup pintu rapat, menyalakan lampu listrik, dan menatap jam dinding. Detik‑detik terus berjalan, namun tidak ada lagi suara aneh. Kirana menaruh jam pasir di lemari, menutup rapat‑rapat, dan berdoa agar malam itu tidak kembali.
Keesokan paginya, rekan kerja Kirana menemukan menara dalam keadaan rusak: kabel terputus, lampu mati, dan kotak kayu kosong. Tidak ada jejak jam pasir, hanya jejak pasir merah yang menghilang di antara tanah.
Sejak saat itu, menara itu tidak pernah lagi dioperasikan. Penduduk desa menganggapnya sebagai peringatan: ada sesuatu yang mengawasi puncak, menunggu setiap orang yang berani mengusik keseimbangan alam. Kirana tetap bekerja di desa, namun setiap kali malam tiba, ia menutup jendela rapat‑rapat, mengingat bisikan yang pernah menemaninya di puncak menara listrik yang sunyi.