Dinda dan Suara Merintih di Balik Pintu Tua
Dinda baru saja pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggir pasar tradisional Kota Pagar Alam. Bangunan itu berusia dua puluh tahun, dindingnya berwarna krem kusam, dan atapnya berderit setiap kali angin sore melintasi. Sebagai mahasiswi jurusan arkeologi, ia menyukai suasana bersejarah, meski kadang terasa menekan.
Pada suatu sore yang berawan, setelah menata barang-barang di kamarnya, Dinda mendengar suara berderak dari loteng. Suara itu berbeda dari bunyi kayu yang biasanya berderak; ada nada serak, hampir seperti desahan napas yang tertahan. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut, ia melangkah menuruni tangga kayu berderak yang mengarah ke ruang atas.
Loteng itu dipenuhi kotak-kotak kardus, perabotan usang, dan sebuah lemari pakaian berwarna coklat tua. Di sudut ruangan, tergeletak sebuah pintu kayu kecil yang tampak tak terpakai, tertutup debu tebal. Pintu itu memiliki engsel berkarat dan gagang besi yang hampir berkarat pula. Di atasnya tertulis dengan goresan pudar: "Jangan dibuka".
Dinda mengernyit. Siapa yang menuliskan itu? Mengapa ada pintu di tengah loteng? Tanpa menyadari detak jantungnya yang semakin cepat, ia mendekati pintu itu. Saat ia menyentuh gagang, suara berdesir terdengar seakan datang dari dalam dinding. Sebuah bisikan lemah, hampir tak terdengar, berulang-ulang: "...kembalikan...".
Rasa takut bergejolak, namun rasa ingin tahu lebih kuat. Dinda mengangkat gagang pintu dengan susah payah. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi berderak yang panjang. Di balik pintu, terdapat ruangan sempit berisi rak-rak kayu berdebu, berisi buku-buku tua, kotak musik, dan sebuah jam dinding antik yang jarum jamnya terhenti pada pukul tiga lewat malam.
Dinda menatap jam itu. Di sekelilingnya, udara terasa lebih dingin. Ia mendengar kembali suara yang sama, lebih jelas kali ini: "...kembalikan...". Tiba-tiba, sebuah buku tebal berwarna coklat terbuka dengan sendirinya, menampilkan halaman berisi tulisan tangan yang hampir pudar.
Tulisan itu berbunyi, "Jika kau menemukan ruangan ini, maka kau telah membuka gerbang sunyi. Kembalikan apa yang telah kau bawa, atau suara ini akan terus memanggilmu hingga kau tak mampu lagi mendengar detak jantungmu sendiri."
Dinda merasakan seutas benang ketakutan mengikat kepalanya. Ia mengingat saat memindahkan barang-barang dari rumah lama orang tuanya, sebuah kotak kayu berukir yang berisi perhiasan keluarga—kalung puspa yang turun temurun—yang secara tidak sengaja ia letakkan di dalam kardus dan bawa ke kontrakan baru.
Secara tak sadar, ia menyadari bahwa kotak itu masih berada di dalam salah satu kardus di sudut loteng. Tanpa berfikir panjang, ia berlari ke kardus, membuka tutupnya, dan menemukan kalung puspa berkilau yang dulu selalu dipakai neneknya.
Saat ia memegang kalung itu, bisikan kembali terdengar, kali ini lebih lembut, seakan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih," bisik suara itu, "kembalikan ke tempat asalnya."
Dinda menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga. Ia merasa seakan waktu melambat. Dengan hati-hati, ia menurunkan kalung ke lantai, lalu mengangkatnya dan berjalan keluar ruangan, menuruni tangga kembali ke kamar.
Setelah kembali ke kamar, Dinda menaruh kalung di atas meja. Ia menutup mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam. Suara berdesir itu menghilang, dan keheningan kembali menguasai rumah.
Malam itu, ketika Dinda tertidur, ia bermimpi berada di sebuah rumah tua di desa terpencil, di mana seorang wanita tua menatapnya dengan mata penuh harap. Wanita itu mengangguk, seakan memberi izin untuk membawa pulang barang yang telah lama hilang.
Keesokan paginya, Dinda memutuskan mengirimkan kalung itu kembali ke rumah neneknya yang kini sudah tiada, melalui sahabatnya yang tinggal di desa asalnya. Ia menuliskan surat singkat, mengungkapkan rasa terima kasih atas warisan keluarga yang kini kembali ke tempat asalnya.
Setelah surat dan kalung terkirim, Dinda kembali ke rumah kontrakan. Ia membuka kembali pintu kayu kecil di loteng. Kali ini, tidak ada bisikan, tidak ada suara aneh. Hanya derak kayu yang biasa. Dinda menutup pintu itu, menutup rapat engselnya, dan menutupnya dengan paku kecil.
Sejak hari itu, suara berderak di loteng tidak lagi terdengar. Dinda tetap tinggal di rumah itu selama semester berikutnya, menyelesaikan tugas akhir dengan tenang. Kadang ia masih merasakan hembusan angin lembut di loteng, seolah-olah mengingatkan bahwa sesuatu telah kembali ke tempatnya.
Namun, pada suatu malam yang sunyi, ketika jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat malam, Dinda terbangun oleh suara ketukan lembut di jendela kamarnya. Ia membuka tirai, melihat cahaya bulan menembus tirai tipis. Di luar, tidak ada apa-apa kecuali bayangan pohon yang bergoyang.
Ketukan itu berhenti. Dinda menghela napas panjang, tersenyum pelan, menyadari bahwa ada sesuatu yang tetap mengawasinya, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai penjaga yang memastikan keseimbangan antara yang lama dan yang baru. Ia menutup jendela, menyalakan lampu, dan kembali tidur, dengan hati yang lebih tenang.
Cerita Dinda menjadi legenda kecil di antara penghuni kontrakan lainnya, tentang pintu kayu berkarat yang mengingatkan kita bahwa setiap benda memiliki kisah, dan kadang suara yang paling menakutkan hanyalah bisikan hati yang belum menemukan tempatnya.