Horor

Cermin Retak Peninggalan Nenek yang Menyimpan Sunyi

Lila menutup pintu belakang rumah barunya dengan suara berderit yang seakan menandakan akhir dari hari yang panjang. Hujan gerimis masih menetes tipis di luar, menambah suasana kelam yang menyelimuti lorong-lorong sempit rumah kayu tua di pinggiran desa. Ia menata barang-barang di kamar, menata tempat tidur, menata lampu yang bersinar redup. Namun, di sudut loteng, sebuah kotak kayu tua menunggu untuk dibuka.

Kotak itu tampak usang, berlapis debu, dengan ukiran motif bunga mawar yang hampir pudar. Di dalamnya terletak sebuah cermin bulat berbingkai kayu gelap, retak di tengahnya seperti retakan sungai yang mengalir perlahan. Lila mengangkat cermin itu dengan hati-hati, merasakan dingin yang aneh menembus kulit tangannya. Pada saat ia menatap ke dalam, bayangan dirinya terdistorsi, seakan ada sesuatu yang menatap kembali dari balik retakan.

"Apa yang kau lihat?" bisik suara samar yang datang dari dalam cermin. Lila menegakkan bahu, mengira itu hanya suara angin yang menembus celah loteng. Namun, suara itu kembali, lebih jelas, seakan mengalir lewat dinding-dinding kayu yang berderit.

"Aku... aku tidak mengerti," jawab Lila, suaranya bergetar. "Siapa kamu?"

Tidak ada jawaban, hanya desiran lembut yang menenangkan sejenak, lalu kembali menjadi suara berbisik, "Aku dulu, aku masih di sini."

Lila menutup cermin itu dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. Malam semakin larut, dan cahaya lampu minyak di ruang tamu berpendar redup. Ia memutuskan untuk tidur, namun rasa penasaran tak dapat ditahan. Pada tengah malam, ketika semua terdengar diam, suara bisikan kembali, lebih kuat, mengalir lewat celah-celah kayu.

"Buka kembali," kata suara itu, "biarkan aku masuk."

Dengan napas terengah-engah, Lila kembali ke loteng. Ia membuka kotak, mengeluarkan cermin, dan menatap ke dalam. Sekali lagi, retakan itu tampak seperti aliran air yang berkilau. Di balik retakan, sebuah ruangan muncul—ruangan yang tidak pernah ada di rumah itu. Dindingnya berwarna hijau pudar, lampu gantung kristal meneteskan cahaya merah muda, dan di sudut terdapat sebuah meja kayu dengan buku harian tua terbuka.

Lila mendekat, tangannya gemetar. Tulisan di buku itu berwarna hitam pekat, namun kata-katanya tampak mengalir seperti tinta yang menetes perlahan.

"23 Desember, 1952. Hari ini aku menutup pintu ke dunia ini," tulisan itu dimulai. "Aku, Nenek Sari, mengunci rahasia dalam cermin ini. Jangan pernah biarkan orang lain melihatnya."

Lila terhenti. Nenek Sari—namanya terdengar familiar. Ia menoleh ke arah cermin, dan retakan seakan berdenyut, mengeluarkan cahaya keemasan. Dari dalam, muncul sosok wanita tua dengan rambut kelabu terurai, matanya menatap lurus pada Lila.

"Kau tak sengaja membuka kembali," kata wanita itu, suaranya berderak seperti kayu tua yang retak. "Aku terkurung di sini selama puluhan tahun, menunggu seseorang yang bisa mendengar bisikanku."

Lila menutup mata, berusaha menenangkan diri. "Kenapa kamu terkurung?" tanya Lila, suaranya hampir tidak terdengar.

Iklan

"Aku menolak menyerahkan diri pada waktu," jawab Nenek Sari. "Aku mengikat diriku pada cermin ini, mengunci ingatanku, agar tidak terhapus. Tapi setiap retakan menuntun pada kepingan kenangan yang terpecah."

Suasana semakin mencekam ketika suara angin masuk lewat jendela loteng, menggerakkan tirai tipis. Cahaya bulan menembus celah, menyoroti retakan yang kini tampak seperti jaringan saraf yang berdenyut.

Nenek Sari melangkah keluar dari cermin, berdiri di antara cahaya dan bayangan. "Aku butuh bantuanmu," katanya. "Jika kau bisa mengembalikan potongan-potongan ingatanku, aku akan membebaskan diriku, dan kau akan bebas dari bisikan ini."

Lila menelan ludah. Ia mengangguk, meski hatinya berdebar kencang. Nenek Sari mengulurkan tangan, dan Lila merasakan sejuknya energi yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Tiba-tiba, ruangan di dalam cermin berputar, menampilkan kilas balik: seorang gadis kecil bermain di kebun, suara tawa anak-anak, lalu api yang melalap rumah tua.

"Itu rumahku," bisik Nenek Sari, "dulu ada api, semua hilang. Aku menyimpan kenangan itu di dalam retakan, berharap suatu hari ada yang menemukan kembali."

Lila menutup mata, membiarkan gambar-gambar itu mengalir. Ia melihat kembali pada masa kecilnya, pada rumah yang dulu dibakar, pada suara ibunya yang memanggilnya. Air mata mengalir, dan ia merasakan ikatan antara dirinya dan Nenek Sari, seolah mereka terhubung lewat rasa kehilangan yang sama.

Ketika Lila membuka mata, retakan pada cermin mulai menghilang, satu per satu, seolah mengering. Suara bisikan semakin pelan, hingga menghilang sama sekali. Nenek Sari tersenyum, mata berkilau.

"Terima kasih," ucapnya lembut. "Sekarang, aku dapat pergi."

Dengan satu hembusan napas, Nenek Sari menghilang, meninggalkan cermin yang kini bersih, tidak lagi retak. Lila menatap pantulan dirinya, melihat seorang wanita yang lebih kuat, lebih damai.

Pagi menjelang, cahaya matahari menembus jendela loteng, memercikkan sinar ke lantai kayu. Lila menurunkan cermin ke lantai, menatapnya sejenak, lalu memutuskan untuk menyimpannya kembali ke dalam kotak. Ia menutup rapat, menempatkannya di sudut loteng, jauh dari pandangan.

Sejak hari itu, rumah itu tidak lagi dipenuhi bisikan. Hujan masih turun, angin masih berhembus, namun kedamaian kembali mengisi setiap ruangan. Lila belajar bahwa kadang, rahasia terburuk bukan terletak pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang terpendam dalam retakan hati.

Dan bila suatu malam, seseorang menemukan cermin itu, mereka akan mendengar bisikan lembut, mengundang mereka untuk menatap ke dalam, mencari kenangan yang terlupakan, dan mungkin—menemukan kembali diri mereka sendiri.

Iklan