Bisikan Lantai Tiga di Apartemen Tua
Bagian 1: Kedatangan
Dira menurunkan koper ke dalam lobi apartemen Graha Rimba yang berwarna abu‑abu kusam. Gedung empat lantai itu terletak di pinggir jalan raya yang selalu berdesir, dekat pasar tradisional di Kelurahan Sinar Wening. Sebagai seorang ilustrator lepas, ia memilih unit kecil di lantai dua dengan pemandangan sempit ke gang sempit yang dipenuhi gerobak‑gerobak penjual kacang. Suasana pagi masih basah karena hujan semalam, menambah aroma tanah basah yang menenangkan.
Setelah menandatangani kontrak, ia mengangkat kunci ke pintu masuk unitnya. Lampu neon yang berkelip‑kelip memberi sambutan dingin. Di dalam, perabotan hanya berupa lemari kayu tua, meja belajar kecil, dan kasur lipat. Dira menata semua barangnya sambil mendengarkan suara kipas angin yang berputar pelan. Pada malam pertama, ia menghabiskan waktu menulis sketsa di atas meja, menunggu lampu gantung berkerlip menutup tirai gelap.
Bagian 2: Suara yang Tak Terduga
Tiga malam setelah pindah, Dira terbangun oleh bisikan halus yang seolah‑olah berasal dari lantai tiga—tempat yang belum pernah ia masuki. Suara itu tidak jelas; hanya terdengar seperti desahan napas yang teredam, berganti dengan bunyi kayu yang bergesekan. "...tidak…" kata suara itu, namun suaranya terputus sebelum kata selanjutnya selesai.
Dira menutup matanya, menggerakkan jari‑jari di sela‑sela selimut, mencoba menenangkan diri. Ia beranjak, menyalakan lampu kamar, dan menatap jendela. Di luar, lampu jalan bersinar redup, menyorot bayangan pohon kelapa yang menari lembut karena angin. Namun tidak ada apa‑apa di luar jendela yang dapat menjelaskan suara itu.
Dia menuruni tangga, menekan tombol lift yang sudah tak terpakai lagi—lift itu sudah lama tidak berfungsi. Di lorong, suara itu terdengar kembali, lebih jelas: "...kamu tidak…" kali ini terdengar seperti seseorang yang berusaha memanggilnya. Dira menahan napas, mengintip ke pintu kamar tidur di lantai tiga. Pintu itu tertutup rapat, namun tidak ada jejak kunci atau gembok.
Bagian 3: Penyelidikan
Keesokan harinya, Dira memutuskan untuk mencari tahu. Ia bertanya kepada tetangga di sebelah, seorang ibu‑ibu bernama Nining yang sedang menyetrika pakaian di teras. "Lantai tiga? Oh, tidak ada yang tinggal di sana sejak dua tahun lalu," jawab Nining, mengelus rambutnya yang dikepang rapi. "Ada kebakaran kecil di dapur, lalu pemiliknya pindah. Sejak itu, ruang itu selalu kosong."
Dira mengangguk, menuliskan catatan kecil di buku sketsanya. Di sore hari, ia kembali ke apartemen, membawa senter kecil dan buku catatan. Di pintu lantai tiga, ia menemukan satu goresan kecil pada cat tembok: sebuah simbol lingkaran dengan tiga titik di dalamnya, seperti bintang kecil. Dira meraba‑raba dinding, menemukan sebuah celah kecil yang mengarah ke ruangan tersembunyi di balik dinding.
Ruang itu berukuran hanya satu meter persegi, dipenuhi debu tebal. Di sudut, ada sebuah kotak kayu berukir, terkunci rapat. Dira memaksa membuka dengan obeng, mengeluarkan isi: sebuah buku catatan lusuh dengan tulisan miring berwarna tinta hitam. Di halaman pertama tertulis: "Jika kau menemukan ini, dengarkanlah suara lantai tiga. Aku tidak pernah bisa meninggalkan tempat ini."
Tulisan selanjutnya berisi catatan harian seorang wanita bernama Mira yang tinggal di apartemen itu pada tahun 1998. Mira menulis tentang suara‑suara aneh yang muncul setiap malam, tentang bayangan yang melintas di dinding, dan tentang sebuah "penjaga" yang muncul setiap kali ia mencoba meninggalkan apartemen.
Bagian 4: Pengulangan Pola
Mira menuliskan tanggal 12 Agustus: "Malam ini, suara itu memanggil namaku. Aku menutup pintu, tapi suara itu tetap masuk melalui celah kecil di lantai. Aku takut."
Dira membaca dengan rasa ngeri. Tiba‑tiba, suara bisikan kembali, lebih jelas: "Dira…". Jantungnya berdegup kencang, namun ia menahan diri untuk tidak panik. Ia menyalakan senter dan menyorot ke arah celah di lantai. Di dalamnya, terdapat sebuah lubang kecil yang mengarah ke ruang di bawah lantai tiga, seolah‑olah sebuah terowongan sempit.
Tanpa ragu, Dira merangkak masuk. Udara di dalam terasa lebih dingin, bau apek menguar. Di ujung terowongan, ada sebuah ruangan berukir kayu, dindingnya dipenuhi gambar‑gambar abstrak yang tampak seperti mantra. Di tengah ruangan, terdapat sebuah patung kecil berbentuk manusia dengan mata batu yang memancarkan cahaya merah redup.
Bagian 5: Penemuan
Patung itu tampak mengawasi setiap gerak Dira. Ketika ia mendekat, suara bisikan berubah menjadi sebuah nyanyian lembut, melantunkan lirik yang tak dapat dimengerti. Dira merasakan getaran pada tanah, seakan‑akan sesuatu bergerak di bawahnya.
Tiba‑tiba, lampu senter padam. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya terdengar desahan napas Dira yang terengah‑engah. Ketika cahaya kembali muncul, patung itu menghilang, meninggalkan hanya sebuah kunci kuningan yang tergeletak di lantai.
Dira mengambil kunci itu, merasakan suhu dinginnya menembus telapak tangannya. Ia bergegas kembali ke lantai tiga, membuka pintu yang selama ini terkunci. Di dalam, sebuah lemari kayu lama terbuka secara otomatis, menampilkan sebuah buku foto hitam‑putih. Semua foto menampilkan ruang yang sama, namun dalam setiap foto, wajah Mira muncul di latar belakang, menatap lurus ke kamera.
Bagian 6: Konfrontasi
Saat Dira memandangi foto itu, suara bisikan kembali, kini bergabung dengan suara lain yang lebih dalam, seperti gema dari dinding batu. "Jangan tinggalkan…" kata suara itu, diikuti oleh tawa pelan yang mengerikan. Dira menutup buku foto, menatap ke arah jendela, dan melihat bayangan seorang wanita berdiri di luar, menatapnya dengan mata kosong.
Ia menyadari bahwa Mira bukanlah korban biasa; ia adalah penjaga ruangan itu, terperangkap dalam siklus suara yang menunggu seseorang untuk memecahkan teka‑teki. Kunci kuningan yang Dira temukan ternyata adalah kunci untuk mengunci kembali suara tersebut, menutup terowongan selamanya.
Dengan gemetar, Dira memasukkan kunci ke dalam lubang kecil di dinding yang sebelumnya menampakkan terowongan. Kunci berputar, suara berderak, dan seketika, seluruh ruangan bergetar. Patung di ruang bawah muncul kembali, namun kali ini matanya bersinar merah menyala, seolah‑olah menandakan akhir dari siklus.
Bagian 7: Penutup
Dira menutup pintu lantai tiga, mengunci rapat. Ia menurunkan lampu, menutup tirai, dan kembali ke kamarnya. Pada malam berikutnya, suara bisikan tidak lagi terdengar. Namun, setiap kali ia menatap cermin kecil di meja rias, ia melihat bayangan Mira yang tersenyum samar, seolah mengucapkan terima kasih.
Beberapa minggu kemudian, Dira memutuskan pindah ke apartemen lain. Saat ia mengemas barang‑barangnya, ia menemukan kembali buku catatan Mira, kini terbuka pada halaman terakhir yang bertuliskan: "Terima kasih telah mendengar. Aku kini bebas."
Dengan perasaan campur aduk, Dira menutup buku itu dan meletakkannya di dalam kotak. Saat ia menurunkan kotak itu ke dalam lift yang masih tidak berfungsi, ia mendengar suara pintu lift berderit pelan, seakan‑akan mengucapkan selamat tinggal.
—