Horor

Banyu dan Suara Lantang di Lumbung Tua

Bagian I – Kedatangan

Banyu menurunkan koper di depan rumah warisan keluarganya yang terletak di pinggir Desa Cikahuripan. Setelah tiga tahun menuntut ilmu di Yogyakarta, ia kembali ke kampung halaman untuk membantu orang tuanya mengelola lahan pertanian. Rumah itu memang sederhana: satu bangunan kayu berlantai dua dengan atap genteng merah yang mulai menguning oleh waktu. Di sampingnya, berdiri sebuah lumbung tua yang dulu dipakai untuk menyimpan gabah dan hasil panen. Lumbung itu kini hampir runtuh, kayunya berjamur, dan hanya dinding batu bata merah yang tersisa.

Malam pertama Banyu di sana dihabiskan dengan menata barang-barang, menyiapkan dapur, dan mengobrol santai bersama ayahnya, Pak Darto, yang tampak lelah namun berseri. "Lumbung itu sudah lama tak dipakai," kata Pak Darto, "tapi ada sesuatu yang masih mengganggu aku tiap malam. Suara dentingan, seperti langkah kaki, kadang terdengar sampai ke dalam rumah."

Banyu menanggapi dengan senyum skeptis. "Mungkin cuma binatang atau angin, Pak."

Bagian II – Suara yang Tak Terlihat

Malam kedua, setelah makan malam selesai, Banyu memutuskan untuk tidur lebih awal. Namun, pada pukul dua lewat, ia terbangun oleh sebuah suara pelan yang berulang‑ulang, hampir seperti bunyi gesekan kayu pada batu. Suara itu datang dari arah lumbung. Banyu bangkit, menyalakan lampu senter, dan menuruni tangga kayu menuju lumbung yang gelap. Di luar, kabut tipis menutupi ladang, menambah suasana seram.

Saat ia melangkah masuk, suara itu semakin jelas: klak… klak… klak… Seolah ada sesuatu yang berulang‑ulang menepuk-ntepuk dinding batu. Banyu menyalakan senter, sinarnya menembus kegelapan, menyingkap sebuah lorong sempit yang tersembunyi di belakang tumpukan jerami. Lorong itu mengarah ke sebuah ruangan kecil yang dindingnya dilapisi batu-batu bata berlumuran lumut.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah kotak kayu berukir yang tampak sangat tua. Kotak itu terkunci rapat, namun suara yang terdengar tadi tampak berasal dari dalamnya, seperti ada sesuatu yang menggerakkan mekanisme dalam kotak. Banyu merasakan jantungnya berdebar. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, tapi sinyal di sana hilang. Hanya ada suara angin yang berdesir dari luar.

Bagian III – Penemuan yang Membingungkan

Banyu memutuskan membuka kotak dengan paksa. Setelah mengerik-kerik kayu yang mengelupas, tutupnya terlepas, mengeluarkan selembar kertas kuno berwarna kehitaman. Tulisan pada kertas itu sudah memudar, namun Banyu masih dapat membaca beberapa kata: "Jika kau mendengar suara, jangan buka pintu ini. Dengarkan saja, karena apa yang terkurung di dalam tidak akan pernah kembali."

Banyu terdiam. Ia mengingat kembali kata-kata ayahnya tentang suara yang mengganggu. Seolah-olah peringatan itu ditujukan kepadanya. Ia menutup kembali kotak, menempatkannya kembali di tempat semula, dan bergegas kembali ke kamar. Namun, suara itu tidak berhenti. Malam itu, suara klak‑klak terus bergema, seolah-olah ada sesuatu yang menunggu.

Iklan

Bagian IV – Menggali Masa Lalu

Keesokan paginya, Banyu memutuskan mencari tahu sejarah lumbung tersebut. Ia mengunjungi perpustakaan desa dan menemukan sebuah buku catatan lama milik kakek buyutnya, Pak Jaya. Di dalamnya tertulis tentang sebuah tradisi "Ritual Penjaga” yang dilakukan setiap seratus tahun sekali untuk mengunci roh penjaga lahan agar tidak mengganggu penduduk. Ritual itu melibatkan sebuah kotak kayu yang berisi “nyanyian” yang harus dibacakan pada malam tertentu, lalu dikunci kembali.

Menurut catatan itu, pada tahun 1920, ritual terakhir dilaksanakan, namun ada catatan yang mengindikasikan “kesalahan” dalam pengucapan mantra, sehingga "suara" tetap terperangkap di dalam kotak.

Banyu kembali ke lumbung dengan rasa takut yang bercampur rasa penasaran. Ia membuka kembali kotak, kali ini dengan hati‑hati, dan menemukan sebuah gulungan kecil terlipat di dalamnya. Gulungan itu berisi barisan kalimat aneh yang tampak seperti nyanyian kuno, ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Banyu mengucapkan satu baris dengan suara pelan, “Malam sunyi, penjaga terkurung, janganlah terbang.”

Segera setelah itu, suara klak‑klak berubah menjadi bisikan lembut, seolah-olah ada sesuatu yang mengalir lewat dinding batu. Bisikan itu berulang‑ulang, namun kini terdengar lebih jelas: "Terima kasih…"

Bagian V – Penutup yang Menegangkan

Banyu menutup kotak lagi, menaruhnya kembali di tempat semula, dan menyalakan lampu senter. Suara menghilang. Ia kembali ke rumah, menemukan ayahnya masih terjaga, menatap ke luar jendela dengan ekspresi khawatir.

"Aku dengar suara tadi," kata Pak Darto, "Aku pikir itu hanya angin, tapi kau tidak mengerti…"

Banyu menatap ayahnya, lalu menatap lumbung yang kini tampak lebih sunyi. "Mungkin suara itu hanyalah panggilan terakhir penjaga yang terkurung," jawabnya.

Malam itu, Banyu tidak lagi mendengar suara aneh. Namun, ia tahu bahwa di balik dinding batu itu, ada sesuatu yang menunggu, terdiam, dan menunggu ketika seseorang kembali mengulangi kesalahan.

Banyu memutuskan untuk menuliskan semua yang ia temukan dalam sebuah jurnal, agar generasi selanjutnya tidak mengulangi langkah yang sama. Lumbung itu tetap berdiri, menahan rahasia yang tak terucapkan, menunggu ketika angin kembali berbisik di antara jerami‑jerami tua.

Iklan